Dia
Mengajari Ku
Ntah memulai dari mana,, yang pasti aku lagi berbicara dengan Tuhan, dengan semua kejadian yang beruntun bagaikan meniti anak tangga yang berduri satu persatu, tapi aku yakin pada anak tangga yang terakhir akupun akan sampai pada tingkatan yang teratas..
Dimulai dari cita-cita yang Optimis
dan harapan yang telah tertanam besar dalam benak orang tua, tgl 21 oktober
2010 Allah memilihkanku untuk tetap tinggal di negriku, Study yang aku
rencanakan ke kota Nabi pun tinggal harapan yang jauh ntah dimana, orang mengenal
aku sosok yang optimis, dan aku yakin itu! “bukankah Allah itu ada dalam
prangsangka hambaNYA”. keoptimas itu
mulai pudar, aku melihat awan semakin kabut, cahaya semakin meredup, tidak ada
tujuan alternatif, sampai semua senyum hilang, suara hening, dan akhirnya air
mata terurai. Hanya bisa melihat wajah Ibu dengan pasrah, menatap si Ayah
dengan tanpa semangat, tidak cukup bagiku hanya mengucapkan “maafkan aku
Ibu/ayah”, terdiam dan hanya terdiam.
Tgl 25 oktober bukan tekad yang bulat,
melainkan kucaba untuk melangkah dengan hal yg tdak terencana. Dengan kalimat
Bismillah dan penuh kekacauan hati aku tapakkan kakiku menuju tempat sebelumnya
aku menjadi seorang santri. Berdiri didepan sebuah pintu kos dan kubuka
perlahan sambil memutar kunci, pandangan yang kudapati pertama adalah selembar
kertas karton yang masih menempel ditembok samping kasur, yang berisi tulisan
tentang grafik hidup seorang Ikbal Hamdanie Dasopang, aku ingat ketika
menulis grafik itu setahun yang lalu. Dan hari itu hanya bisa menjadi
robekan-robekan kertas kecil. Kali ini Tuhan tidak menjawab permintaanku dengan
“YA”.
Mencoba meneruskan perkuliahan di
Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an, atas
pertimbangan, pergaulan dan hafalan Al-Qur’an yang kumiliki saat itu. Perlahan
aku menanamkan niat belajar dikampus yang penghuninya adalah orang-orang hafidz
dan Qari, dan aku bukanlah salah satu bagian dari mereka. Namun aku mencoba
terjunkan diri dalam sebuah organisasi, Meminta sebuah kendaraan kpda orang tua
dengan sangat berat hati, dan semuanya harus dijalani. Disini Tuhan lagi
mengajriku untuk memilih tindakan yang tepat.
Masuk dan berbagi dalam sebuah
organisasi mahasiswa Islam, perlahan mulai bisa memaknai hidup kembali, sperti
apapun keadaan kita, tetap masih ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk orang
lain, itu pelajaran pertama yang kutemukan. Belajar berkomunikasi, belajar
berdiskusi, dan belajar bersosialisasi. Menemukan orang-orang yang baru dalam
hidupku. Lucu, ceria, cerdas, tegas, berwibawa, semuanya ada pada mereka. Mulai
belajar berbagi dengan sebuah baksos berbagi setitik ilmu, sampai belajar
mengontrol perasaan yang aku tuangkan dalam sebuah tema “cinta kutemukan di
istana kumuh”.
Keikhlasan yang benar-benar ditempa
saat itu, pengorbanan dan kesabaran yang menjadi tokoh utamanya. Kesederhanaan
adalah sahabat hari itu, bahkan sebagian orang mungkin menganggap hal yang
menjijikan, namun disitu kebahagian yang sangat luar biasa kutemukan. Tuhan
mengajriku bahwa Materi yang cukup kumiliki hari ini tidak menjadi jamaninan
untuk bisa membawaku kepada suasana hati yang Tulus dan ceria. Berlomba dengan
waktu, mengejar tenggelamnya matahari dan terus berusaha kami dan teman-teman
telah sampai di Mushalla mungil itu.
Seperti hal yang rutin, kami memulai
langkah mengejar matahari kembali untuk sampai ditujuan. Akan tetapi, apakah
karena niat, atau sebab lain yang membuatku terdiam sejenak saat disepertiga
jalan, kecelakaan itupun terjadi. Berusaha untuk tenang dan mencari jalan
solusi tentang keadaan yang membuat aku berfikir keras. Dan disini Tuhanpun
lagi berkata dan mengajriku untuk mandiri dan bertanggung jawab, menyelesaikan
suatu keadaan yang tidak pernah terfikir olehku. Dan yakin ini semua adalah
bentuk dari bimbinganNYA.
Seminggu waktu berselang, semua yang
kumiliki sadar adalah hanya sementara. Salah satunya dalah kendaraan yang
kupunya hari itu ditarik lagi olehnya. Sempat mengeluh “ya rabb, hamba tidak
tahu apakah ini bagian dari adzab atas kemaksiatan dan dosa yag hamba lakukan,
ataukah bagian dari cobaan dan musibah yang bisa menghantarkan hamba sampai
pada tingkat selanjutnya?, namun bukankah selama ini hamba pakai untuk berbagi
dengan hambaMu yang lain, masihkah aku salah mensyukuri nikmatMu ya rabb?”.
Disini aku belajar bertasawwuf kecil untuk sampai pada tingkat Al-Ikhlas war
Ridho. Namun terkadang rasa putus asa itu lahir kembali. Mengapa Tuhan
menghentikan langkahku kembali?. Ternyata, bukan Tuhan menghentikan langkahku,
namun Tuhan mengajariku untuk bijak dan
cerdas mengambil cara lain tanpa berpangku tangan dengan semua fasilitas
hidupku.
Sebulan waktu berselang rutinitasku
masih terus berjalan, ntah apa yang salah, atau aku yang bersikap salah pada
adik-adiku sampai mereka marah dan membenciku hari ini. Aku hanya ingin yang
terbaik untuk mereka. Sepulang mengajar anak-anak, ku lanjutkan untuk
menghantar pulang teman yang akhwat, akan tetapi ditengah perjalanan itu kami
disuguhkan kemacetan yang membuat perut saat itu menjadi lapar dan melahirkan
pikiran untuk berhenti sejenak demi memasukkan seteguk air dan sekepal nasi
kedalam mulut. Suasana itu membuat aku benar-benar bahagia dan lepas, apakah
karena makanan yangg ada didepan mata, ataukah tempat kami makan saat itu,
ataukah karena seseorang yang menemani makanku malam itu?. Yang pasti senyum
tulus dan bahagia hadir dipipiku sembari menikmati seekor Lele,, ha ha
Sepulang ku keasrama kembali, senyum
lepasku ternyata tidak bertahan lama. Ntah apa lagi Allah mengajariku disini.
Sekitar dua kali tarikan gas, kendaliku terlepas dan membating tubuhku ditengah
jalan kota Jakarta ini. Berguling berkali-kali dan mulai merasakan ada yang
berubah dari keadaanku. Masih berusaha menepikan kendaraan (motor pinjeman)
yang kupakai, tidak seorang pun menghampiriku saat itu. Mungkin ini salah satu
slogan yang pernah kudengar “bahwa Ibu kota Jakarta itu kejam”, sampai akhirnya
seorang pemuda membantu menstater kendaraan yang aku belum tau keadaannya.
Pikiranku kosong, kaku dan bingun adalah keadaanku saat itu, hanya bisa
menghapus serpihan gigi di bibir bawahku, ternyata aku baru tau tiga buah gigi
seri atasku telah pecah. Berusaha melanjutkan perjalanan tanpa memperdulikan
anggota tubuhku yang lain, namun rasa ngilu di pergelangan dan siku tangan
kiriku mulai terasa. Rasa perih disekitar tangan kanan dan kakiku mulai
bereaksi, sesampainya di kamar, aku rebahkan tubuh yang baru saja terbanting
ditengah jalan itu.
Dan aku yakin lgi hari ini Tuhan
berbicara lagi Setelah sekian banyak kejadian yang kualami, berfikir apakah ini
bagian dari dosa kerena adanya kebohongan kepada orang tua tua bahwa
sesungguhnya Motor yang mereka belikan telah raip. Tgl 15 Mei 2012 aku
memberanikan diri bukan bermaksud lantang, ataupun memberikan beban baru buat
si Ibu/ayah disamping sakit yang mereka pikul. Melainkan hanya untuk
mendapatkan ridho darimu Ibu/ayah dari semua yang akan aku lakukan kedepan.
Ibu menangis mendengar dari semua
berita yang kusampaikan, menangis karena anaknya lagi tergeletak kesakitan jauh
di kota Jakarta, menangis karena kehabisan akal cara untuk menyampaikan
berit-berita buruk ini kepada si Ayah, menangis karena melihat usaha si Ayah
betapa gigihnya mencarai nafkah dan hari ini beliau harus mendengar bahwa uang
yang pernah dikirim dengan sekian juta telah hilang, dan menangis berfikir
betapa banyak beban yang harus di pikul si Ibu dengan umur yang semakin renta,
badan semakin kurus ditambah penyakit yang satu persatu menyerang tubuh beliau.
Aku hanya terdiam pasrah dengan semua keadaan hari ini.
Mereka keluargaku yang baru mendengar
semua berita dariku tidak henti-hentinya meneleponku berkali-kali tapi yang aku
sayangkan dan sesali, yang dibahas adalah masalah Motor yang hilang, dalam
benak aku berfikir “apakah mereka tidak pernah terfikirkan bagaimana dengan
keadaanku sekarang?” tapi aku tidak minta itu, akupun sadar dengan semua
kelalaian yang telah kuperbuat. Sedih, sakit, kecewa, semua itu rasakan.
Namun dengan semua itu bukan Tuhan
tidak adil, Allah mengirimkan malaikat-malaikatNya kepadaku berupa sahabat,
teman yang sangat luar biasa. Menghibur, membuat aku selalu tersenyum, akan
tetapi ada niat terselubung mereka, yakni untuk melihat gigiku yang setengah
ompong J, tapi sayang, mereka tidak semudah
itu buat aku untuk tertawa tebahak-bahak. Mengajak aku keluar dari keheningan
suasana, membawa keadaanku menjadi sangat ramai dan kaya. Ini keluarga baruku,
this is my big family. Perhatian dan motivasi mereka yang membuat aku semakin
hidup, aku semakin mengerti dengan semua yang Tuhan katakan dalam hatiku, aku
pusatkan seluruh pikiran dan hatiku kepadaNya dan tersenyum sambil berkata
“Engkau sangat Indah dengan semua KehendakMu ya Rabb”.
Aku nikmati semua itu, hari ini
bagaikan hari ulang tahunku, telepon genggam berdering disetiap sepiku,
tersenyum bahkan terharu setiap membaca rangkaian kata yang tersusun berupa sms
di layar hp. “sabar ya, nikmat memang terasa hilang saat kita sakit, tapi saat
sakit itu kita sabar maka akan terasa nikmat,, tenang saja nanti sepulang dari
dokter InsyaAllah langsung sembuh ko’ ^_^..” itu sebagian rangkain kalimat yang
kudapati, aku membalas nya seolah putus asa, “tapi keadaanku tidak akan bisa
kembali lagi seperti sebelumnya”, dan balasan selanjutnya membuat aku
tersenyum, “ Sok tau,, kan Allah yang Maha menentukan, siapa tau Allah punya rencana
lain, membuatmu lebih tampan dari sebelumnya,, he he besyukur aja, Allah masih
memberikan kesempatan untuk berbuat baik lebih banyak, indahnya paras wajah
bukan suatu jaminan, asal iman dan taqwa tidak hilang maka ketampanan hati akan
datang sendirinya ^_^.”
Setelah ada janji dengan dokter, aku
rapikan seluruh pakaianku dan berangkat ke ruang praktek gigi beliau.
Berkonsultasi dan saatnya melakukan operasi kecil disekitar gigi-gigiku yang
sudah pada retak dan pecah. Sakitnya luar biasa, ingin sekali menggenggam
tangan Ibu saat itu, berteriak tidak bisa, karena seluruh ruangan mulut telah
dipenuhi dengan berbagai macam alat sang dokter, hanya bisa menahan sakit dan
air mata mengalir dengan sendirinya. Disela-sela penyelesaian operasi kecilku,
hp disaku ku bergetar, berusaha meraih dan melihat layar yang menampilkan 12
angka no telepon seseorang, dan aku kenal no itu, 2 hurup akhir yang
dibolak-balik = 962. Dan tidak ada kesempatan untuk menerima panggilan itu
karena sang dokter lagi sibuk merapikan gigi yang telah usai di tambal. Dan
setelah semuanya rapi, aku mendapati teman-teman akhwat telah menungguku selepas magrib tadi, untuk melihat
keadaanku gigiku yang setengah ompong, tapi sayang gigiku sekarang telah rapi
kembali,, he he. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya, hanya bisa melihat
wajah-wajah cantik dan tulus mereka, dan subuah obat yang sangat luar biasa
dalam hidupku. Sungguh Tuhan selalu berbicara dengan hambaNya, jangan biarkan
kami meninggalkanmu Rabb, dan jangan masukkan kami dalam golongan orang-orang
yang putus asa dari rahmatMu..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar