Sabtu, 19 Mei 2012

Berkomunikasi Dengan Tuhan



Dia Mengajari Ku

Ntah memulai dari mana,, yang pasti aku lagi berbicara dengan Tuhan, dengan semua kejadian yang beruntun bagaikan meniti anak tangga yang berduri satu persatu, tapi aku yakin pada anak tangga yang terakhir akupun akan sampai pada tingkatan yang teratas..

Dimulai dari cita-cita yang Optimis dan harapan yang telah tertanam besar dalam benak orang tua, tgl 21 oktober 2010 Allah memilihkanku untuk tetap tinggal di negriku, Study yang aku rencanakan ke kota Nabi pun tinggal harapan yang jauh ntah dimana, orang mengenal aku sosok yang optimis, dan aku yakin itu! “bukankah Allah itu ada dalam prangsangka hambaNYA”.  keoptimas itu mulai pudar, aku melihat awan semakin kabut, cahaya semakin meredup, tidak ada tujuan alternatif, sampai semua senyum hilang, suara hening, dan akhirnya air mata terurai. Hanya bisa melihat wajah Ibu dengan pasrah, menatap si Ayah dengan tanpa semangat, tidak cukup bagiku hanya mengucapkan “maafkan aku Ibu/ayah”, terdiam dan hanya terdiam.

Tgl 25 oktober bukan tekad yang bulat, melainkan kucaba untuk melangkah dengan hal yg tdak terencana. Dengan kalimat Bismillah dan penuh kekacauan hati aku tapakkan kakiku menuju tempat sebelumnya aku menjadi seorang santri. Berdiri didepan sebuah pintu kos dan kubuka perlahan sambil memutar kunci, pandangan yang kudapati pertama adalah selembar kertas karton yang masih menempel ditembok samping kasur, yang berisi tulisan tentang grafik hidup seorang Ikbal Hamdanie Dasopang, aku ingat ketika menulis grafik itu setahun yang lalu. Dan hari itu hanya bisa menjadi robekan-robekan kertas kecil. Kali ini Tuhan tidak menjawab permintaanku dengan “YA”.

Mencoba meneruskan perkuliahan di Perguruan  Tinggi Ilmu Al-Qur’an, atas pertimbangan, pergaulan dan hafalan Al-Qur’an yang kumiliki saat itu. Perlahan aku menanamkan niat belajar dikampus yang penghuninya adalah orang-orang hafidz dan Qari, dan aku bukanlah salah satu bagian dari mereka. Namun aku mencoba terjunkan diri dalam sebuah organisasi, Meminta sebuah kendaraan kpda orang tua dengan sangat berat hati, dan semuanya harus dijalani. Disini Tuhan lagi mengajriku untuk memilih tindakan yang tepat. 

Masuk dan berbagi dalam sebuah organisasi mahasiswa Islam, perlahan mulai bisa memaknai hidup kembali, sperti apapun keadaan kita, tetap masih ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk orang lain, itu pelajaran pertama yang kutemukan. Belajar berkomunikasi, belajar berdiskusi, dan belajar bersosialisasi. Menemukan orang-orang yang baru dalam hidupku. Lucu, ceria, cerdas, tegas, berwibawa, semuanya ada pada mereka. Mulai belajar berbagi dengan sebuah baksos berbagi setitik ilmu, sampai belajar mengontrol perasaan yang aku tuangkan dalam sebuah tema “cinta kutemukan di istana kumuh”.

Keikhlasan yang benar-benar ditempa saat itu, pengorbanan dan kesabaran yang menjadi tokoh utamanya. Kesederhanaan adalah sahabat hari itu, bahkan sebagian orang mungkin menganggap hal yang menjijikan, namun disitu kebahagian yang sangat luar biasa kutemukan. Tuhan mengajriku bahwa Materi yang cukup kumiliki hari ini tidak menjadi jamaninan untuk bisa membawaku kepada suasana hati yang Tulus dan ceria. Berlomba dengan waktu, mengejar tenggelamnya matahari dan terus berusaha kami dan teman-teman telah sampai di Mushalla mungil itu.

Seperti hal yang rutin, kami memulai langkah mengejar matahari kembali untuk sampai ditujuan. Akan tetapi, apakah karena niat, atau sebab lain yang membuatku terdiam sejenak saat disepertiga jalan, kecelakaan itupun terjadi. Berusaha untuk tenang dan mencari jalan solusi tentang keadaan yang membuat aku berfikir keras. Dan disini Tuhanpun lagi berkata dan mengajriku untuk mandiri dan bertanggung jawab, menyelesaikan suatu keadaan yang tidak pernah terfikir olehku. Dan yakin ini semua adalah bentuk dari bimbinganNYA.

Seminggu waktu berselang, semua yang kumiliki sadar adalah hanya sementara. Salah satunya dalah kendaraan yang kupunya hari itu ditarik lagi olehnya. Sempat mengeluh “ya rabb, hamba tidak tahu apakah ini bagian dari adzab atas kemaksiatan dan dosa yag hamba lakukan, ataukah bagian dari cobaan dan musibah yang bisa menghantarkan hamba sampai pada tingkat selanjutnya?, namun bukankah selama ini hamba pakai untuk berbagi dengan hambaMu yang lain, masihkah aku salah mensyukuri nikmatMu ya rabb?”. Disini aku belajar bertasawwuf kecil untuk sampai pada tingkat Al-Ikhlas war Ridho. Namun terkadang rasa putus asa itu lahir kembali. Mengapa Tuhan menghentikan langkahku kembali?. Ternyata, bukan Tuhan menghentikan langkahku, namun  Tuhan mengajariku untuk bijak dan cerdas mengambil cara lain tanpa berpangku tangan dengan semua fasilitas hidupku.

Sebulan waktu berselang rutinitasku masih terus berjalan, ntah apa yang salah, atau aku yang bersikap salah pada adik-adiku sampai mereka marah dan membenciku hari ini. Aku hanya ingin yang terbaik untuk mereka. Sepulang mengajar anak-anak, ku lanjutkan untuk menghantar pulang teman yang akhwat, akan tetapi ditengah perjalanan itu kami disuguhkan kemacetan yang membuat perut saat itu menjadi lapar dan melahirkan pikiran untuk berhenti sejenak demi memasukkan seteguk air dan sekepal nasi kedalam mulut. Suasana itu membuat aku benar-benar bahagia dan lepas, apakah karena makanan yangg ada didepan mata, ataukah tempat kami makan saat itu, ataukah karena seseorang yang menemani makanku malam itu?. Yang pasti senyum tulus dan bahagia hadir dipipiku sembari menikmati seekor Lele,, ha ha

Sepulang ku keasrama kembali, senyum lepasku ternyata tidak bertahan lama. Ntah apa lagi Allah mengajariku disini. Sekitar dua kali tarikan gas, kendaliku terlepas dan membating tubuhku ditengah jalan kota Jakarta ini. Berguling berkali-kali dan mulai merasakan ada yang berubah dari keadaanku. Masih berusaha menepikan kendaraan (motor pinjeman) yang kupakai, tidak seorang pun menghampiriku saat itu. Mungkin ini salah satu slogan yang pernah kudengar “bahwa Ibu kota Jakarta itu kejam”, sampai akhirnya seorang pemuda membantu menstater kendaraan yang aku belum tau keadaannya. Pikiranku kosong, kaku dan bingun adalah keadaanku saat itu, hanya bisa menghapus serpihan gigi di bibir bawahku, ternyata aku baru tau tiga buah gigi seri atasku telah pecah. Berusaha melanjutkan perjalanan tanpa memperdulikan anggota tubuhku yang lain, namun rasa ngilu di pergelangan dan siku tangan kiriku mulai terasa. Rasa perih disekitar tangan kanan dan kakiku mulai bereaksi, sesampainya di kamar, aku rebahkan tubuh yang baru saja terbanting ditengah jalan itu.

Dan aku yakin lgi hari ini Tuhan berbicara lagi Setelah sekian banyak kejadian yang kualami, berfikir apakah ini bagian dari dosa kerena adanya kebohongan kepada orang tua tua bahwa sesungguhnya Motor yang mereka belikan telah raip. Tgl 15 Mei 2012 aku memberanikan diri bukan bermaksud lantang, ataupun memberikan beban baru buat si Ibu/ayah disamping sakit yang mereka pikul. Melainkan hanya untuk mendapatkan ridho darimu Ibu/ayah dari semua yang akan aku lakukan kedepan. 

Ibu menangis mendengar dari semua berita yang kusampaikan, menangis karena anaknya lagi tergeletak kesakitan jauh di kota Jakarta, menangis karena kehabisan akal cara untuk menyampaikan berit-berita buruk ini kepada si Ayah, menangis karena melihat usaha si Ayah betapa gigihnya mencarai nafkah dan hari ini beliau harus mendengar bahwa uang yang pernah dikirim dengan sekian juta telah hilang, dan menangis berfikir betapa banyak beban yang harus di pikul si Ibu dengan umur yang semakin renta, badan semakin kurus ditambah penyakit yang satu persatu menyerang tubuh beliau. Aku hanya terdiam pasrah dengan semua keadaan hari ini.

Mereka keluargaku yang baru mendengar semua berita dariku tidak henti-hentinya meneleponku berkali-kali tapi yang aku sayangkan dan sesali, yang dibahas adalah masalah Motor yang hilang, dalam benak aku berfikir “apakah mereka tidak pernah terfikirkan bagaimana dengan keadaanku sekarang?” tapi aku tidak minta itu, akupun sadar dengan semua kelalaian yang telah kuperbuat. Sedih, sakit, kecewa, semua itu rasakan. 

Namun dengan semua itu bukan Tuhan tidak adil, Allah mengirimkan malaikat-malaikatNya kepadaku berupa sahabat, teman yang sangat luar biasa. Menghibur, membuat aku selalu tersenyum, akan tetapi ada niat terselubung mereka, yakni untuk melihat gigiku yang setengah ompong J, tapi sayang, mereka tidak semudah itu buat aku untuk tertawa tebahak-bahak. Mengajak aku keluar dari keheningan suasana, membawa keadaanku menjadi sangat ramai dan kaya. Ini keluarga baruku, this is my big family. Perhatian dan motivasi mereka yang membuat aku semakin hidup, aku semakin mengerti dengan semua yang Tuhan katakan dalam hatiku, aku pusatkan seluruh pikiran dan hatiku kepadaNya dan tersenyum sambil berkata “Engkau sangat Indah dengan semua KehendakMu ya Rabb”.

Aku nikmati semua itu, hari ini bagaikan hari ulang tahunku, telepon genggam berdering disetiap sepiku, tersenyum bahkan terharu setiap membaca rangkaian kata yang tersusun berupa sms di layar hp. “sabar ya, nikmat memang terasa hilang saat kita sakit, tapi saat sakit itu kita sabar maka akan terasa nikmat,, tenang saja nanti sepulang dari dokter InsyaAllah langsung sembuh ko’ ^_^..” itu sebagian rangkain kalimat yang kudapati, aku membalas nya seolah putus asa, “tapi keadaanku tidak akan bisa kembali lagi seperti sebelumnya”, dan balasan selanjutnya membuat aku tersenyum, “ Sok tau,, kan Allah yang Maha menentukan, siapa tau Allah punya rencana lain, membuatmu lebih tampan dari sebelumnya,, he he besyukur aja, Allah masih memberikan kesempatan untuk berbuat baik lebih banyak, indahnya paras wajah bukan suatu jaminan, asal iman dan taqwa tidak hilang maka ketampanan hati akan datang sendirinya ^_^.”

Setelah ada janji dengan dokter, aku rapikan seluruh pakaianku dan berangkat ke ruang praktek gigi beliau. Berkonsultasi dan saatnya melakukan operasi kecil disekitar gigi-gigiku yang sudah pada retak dan pecah. Sakitnya luar biasa, ingin sekali menggenggam tangan Ibu saat itu, berteriak tidak bisa, karena seluruh ruangan mulut telah dipenuhi dengan berbagai macam alat sang dokter, hanya bisa menahan sakit dan air mata mengalir dengan sendirinya. Disela-sela penyelesaian operasi kecilku, hp disaku ku bergetar, berusaha meraih dan melihat layar yang menampilkan 12 angka no telepon seseorang, dan aku kenal no itu, 2 hurup akhir yang dibolak-balik = 962. Dan tidak ada kesempatan untuk menerima panggilan itu karena sang dokter lagi sibuk merapikan gigi yang telah usai di tambal. Dan setelah semuanya rapi, aku mendapati teman-teman akhwat  telah menungguku selepas magrib tadi, untuk melihat keadaanku gigiku yang setengah ompong, tapi sayang gigiku sekarang telah rapi kembali,, he he. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya, hanya bisa melihat wajah-wajah cantik dan tulus mereka, dan subuah obat yang sangat luar biasa dalam hidupku. Sungguh Tuhan selalu berbicara dengan hambaNya, jangan biarkan kami meninggalkanmu Rabb, dan jangan masukkan kami dalam golongan orang-orang yang putus asa dari rahmatMu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar