Minggu, 27 Mei 2012

Galau Night



Bismillahirrahmanirrahim…
Gue gk tau ya, kenapa ada keinginan gue untuk mengulas pembahasan masalah pacaran dalam catatan gue kali ini,, padahal gk menutupi kemungkinan juga kalau suatu saat nanti dan mungkin sekrang gue lagi pacaran,, tapi gkpp kali ya kita sharing aja,, ini sedikit aja pandangan gue tentang bahasan itu, dan semua ini terinspirasi dari guru gue ketika Beliau memberikan nasihatnya dulu pas gue masih di pondok..
Semoga bermanfaat Gan, khususnya buat gue sendiri, kita sama-sama belajar Gan,, salam perdamaian.. ^_^.. selamat Membaca!

              Apa yang ada dalam pikiran anda jikalau anda mendengar kata PACARAN!??
Kata-kata itu sudah tidak asing lagi di telinga kita, yaitu suatu hubungan asmara atau percintaan, dan bisa dibilang kasih dan sayang antara kedua insan yang berlainan jenis. Akan tetapi tidak menutupi kemungkinan didasari atas Nafsu!. Melakukan dan menyepakati suatu ikatan yang mereka buat sendiri atas dasar rasa saling suka. Apakah ikatan dari agama,? Bukan!, apakah ikatan dari keluarga,? juga bukan, dan apakah ikatan dari suatu adat/kebiasaan? Bisa dibilang ya, bisa juga dibilang bukan!,


Pacaran adalah suatu tradisi yang lebih banyak di anut oleh anak-anak Muda yang melajang yang sedang menjalin hubungan asmara, yaitu suatu kebiasaan yang bersal dari negara barat, yang sudah mengalir keseluruh pelosok dan penjuru bumi semesta alam. Banyak mamfaat yang mereka dapatkan dari pacaran yang mereka lakukan, yakni salah satunya ialah, meningkatkan rasa kepercayaan diri seorang insan yang sedang dicintai oleh orang yang dicintainya juga, akan tetapi mudharat/keburukan dari pacaran itu sendiri jauh lebih besar dari pada mamfaat yang mereka dapat kan, baik dari segi kepribadian orang yang menjalankan, adat-istiadat dan bahkan agama. Sama halnya seperti minuman Khamar dan judi, (Ketika mereka bertanya kepadaMu tentang khamar dan judi, maka katakanlah di dalam kedua itu terdapat dosa yang besar dan mamfaat bagi manusia, akan tetapi dosanya lebih banyak/besar daripada mamfaatnya) Q,S Al-Baqaroh:219. 

Orang yang melakukan pacaran karena diawali oleh ketertarikan terhadap lawan jenisnya, mungkin dimulai dari pandangan, kegiatan, atau suatu peristiwa yang menyebabkan mereka tuk saling menyukai. Pada zaman sekarang, banyak sarana tuk mengenal orang lain, khususnya dalam dunia maya, melalui internet orang bisa melakukan perkenalan, janjian, bahkan bertatapan muka, walaupun secara tidak langsung. Anda bisa renungkan dan pertimbangkan dari point-point yang akan saya ajukan, yaitu:  Ingat! 7 langkah menuju kepada PERZINAHAN.

1.      Melihat
2.      Tersenyum
3.      Tertarik
4.      Kenalan/ta'aruf
5.      Janjian/bertemu
6.      Sentuhan/pegangan tangan
7.      Zina (Hubungan intim tanpa nikah)
Tujuh point di atas adalah kehidupan, yang sudah ada disekeliling kita, tapi sudah sampai point keberapakah mereka lakukan,? atau yang sudah kita lakukan??? Tuhan melarang sesuatu, karena didalam itu banyak keburukan yang akan menimpa pelakunya, dan Tuhan memerintahkan kita untuk mengerjakan sesuatu, karena dalam perintah itu banyak kebaikan dan faedah yang kita dapatkan. Bukan tanpa alasan Tuhan memerintahkan sesuatu dan melarang terhadap sesuatu yang DIA kehendaki. Tuhan tidak membutuhkan argumentasi, seperti Iblis ketika berargumen kepada Tuhan karena keenggananya untuk bersujud kepada manusia. Akan tetapi yang harus kita hadapkan adalah implementasi dari suatu perintah, yaitu mendengarkan dan melaksanakan.

Senin, 21 Mei 2012

Hidup Itu Harus Berbagi Lho,, ^_^





Kutemukan Cinta Di Istana Kumuh

Setiap kegelapan yang menyelimuti, maka akan menyusul secercah cahaya yang akan menyinari, Setiap semangat mu jatuh, maka suatu saat semangat itu akan berkobar-kobar bak api yang seolah takkan pernah padam. Bukan tanpa sebab seseorang bisa bangun kembali dari keterpurukannya. Bukan tanpa seseorang dia bisa tersenyum kembali setelah sunami kesedihan yang melandanya.
Dan hari ini aku merasakan semua itu. Hidupku yang baru, suasanaku yang ramai, membuat pipi ini susah untuk menahan senyum itu. Tanpa membawa perasaan, namun perasaan itu lahir dalam kebersamaan. Tanpa mendekatinya, namun kedekatin itu tercipta dalam sebuah keakraban keluarga. Tidak hanya sebatas keluarga, melainkan pada saatnya bisa menjadi kakak, adik, sahabat bahkan sebagai guru dan mungkin seorang kekasih.
Anak-anak yang polos dengan wajah yang ceria dan tanpa dibebani dosa karena usia mereka yang masih dini, mengingatkan aku kemasa kekanak-kanakan dulu. Menangis, tertawa, berlari, bermain dan bercanda dan aku yang menjadi tokoh utama waktu itu, namun hari ini aku harus menjadi pemeran lain. Menjadi penghibur saat mereka menangis, menjadi badut untuk membuat mereka tertawa, dan menjadi teman saat mereka lagi bermain, dan adakalanya menjadi seorang guru ketika harus bijak saat mengajari mereka.
Keceriaan mereka dalam sebuah kesederhanaan mengajak aku untuk selalu bersyukur dalam hidup ini, saling berbagi dan merasakan bahwa hidup itu tidak hanya milik kita semata, namun milik orang lain yang membutuhkan kita. Kerendahan hati dan ketulusan teman-teman yang membuat aku semakin yakin lagi tentang hidup ini, mengajari tentang banyak hal. Dan menemukan sosok yang membuat ku semakin terpacu untuk terus memperbaiki diri. Parasnya yang indah, sifatnya yang bijak, tutur katanya yang teratur, dan kepribadian nya yang kuat dalam menjaga dirinya sebagai seorang muslimah yang bisa beradabtasi dengan perubahan zaman, dan semua itu membuat aku mengaguminya.
Aku bangga melihat semangat kalian, anak-anak yang dengan keadaan sangat sederhana  mampu memaknai hidup ini dengan senyuman. Aku kagum dengan semangatmu wahai engkau yang membuat aku termotivasi. Aku merasakan kebahagian yang sangat dalam, Karena aku bisa memasuki kehidupan kalian..
Aku merasakan keindahan yang sangat ketika melihat senyuman anak-anak itu.Tawa mereka yang begitu tulus, pelukan-pelukan mereka yang begitu dekat, mengingatkan aku pada hidup ini yang penuh arti.. wahai engkau wanita yang selalu membuat aku ceria,, keramahanmu begitu alami, kerendahan hatimu begitu mulia, membuat aku semakin ingin merangkul mereka (anak-anak)..
Kebahagian yang sesungguhnya tidak aku temukan dalam kemewahan, melainkan dari sebuah kehidupan yang sangat sederhana terpancar dari wajah-wajah yang tulus dan bahagia. Ketentraman yang kucari bukan pada bentuk materi yang kumiliki, melainkan dari seraut wajah tat kala menatapmu.
Aku akan rindu dengan teriakan-teriakan anak-anak ini, tapi aku tidak akan memaksa diri untuk mendengarkan teriakan-teriakan itu lagi. Aku akan sangat ingin sekali melirik raut wajah itu lagi, tapi aku tidak akan melakukannya lagi jika hanya sebatas keinginanku saja. Ini yang meringankan langkahku untuk selalu ingin bertemu dengan anak-anak. Dan itu pula yang membuat aku semakin ingin memeluk mereka di dekatmu. Tapi mungkin aku salah, tidak menempatkan yang seharusnya aku tempatkan pada tempatnya..
Dan kali ini engkau membalas tulisanku dengan apa yang engkau rasakan bersama mereka selama ini: “Cinta dan kasih sayang mereka lebih tulus dari pada orang dewasa. Ekspresi mereka begitu nyata, hingga hati ini sangat rela menerima tangis dan tawanya. Hari-hari yang kulewati bersama mereka menimbulkan aneka rasa. Ntah suatu saat nanti, masihkan aku diberi kesempatan mendengarkan panggilan-panggilan mungil itu. Semangatku berada dikebersamaan temen-teman. Aku bangga dengan kalian yang mau menapakkan kaki di lautan kumuh. Menebar kebahagiaan dan memberikan apa yang kalian punya. Dan aku tidak akan pernah bisa tersenyum bersama mereka tanpa adanya kalian. Aku bahagia jika kalian bahagia. Tak ada yang lain terpikir olehku melaikan semua itu!! Jangan patah semangat saat seseorang itu tak membalas harapanmu.. Semua rasa indah itu akan ada pada keikhlasan yang kau tanam... ^^..”
Dan ingin sekali menjawab kalimat-kalimat mu dengan ungkain kataku : “Tidak akan aku tapakkan kakiku diatas lautan kumuh seperti yang kau sebutkan melainkan aku membawa sebuah lautan keihklasan pula. Bukan hanya keikhlasan tetapi juga ‘cinta’ dan ‘kasih sayang’. Bukan berputus asa pada harapan yang tidak diberikan melainkan melakukan intropeksi diri terhadap harapan yang ditanam. Seperti janji Tuhan, akan dipertemukan olehNYA orang yang baik dengan yang baik pula dan sebaliknya... dan mungkin aku cukup tidak baik jika harus bertemu denganmu.. :’-(.
Tapi terkadang diri ini melampaui batas untuk membuat suatu harapan, semoga tuhanku mengajari aku untuk selalu bisa menempatkan diri ini!! Dan kalimat terakhirmu yag diselingi dengan tawa yang lepas “Ha... ha... ha... Ada-ada saja,,, mari kita jalani apa adanya... Serahkan semua pada Allah, kita minta saja yang terbaik dariNYA...

Sabtu, 19 Mei 2012

Berkomunikasi Dengan Tuhan



Dia Mengajari Ku

Ntah memulai dari mana,, yang pasti aku lagi berbicara dengan Tuhan, dengan semua kejadian yang beruntun bagaikan meniti anak tangga yang berduri satu persatu, tapi aku yakin pada anak tangga yang terakhir akupun akan sampai pada tingkatan yang teratas..

Dimulai dari cita-cita yang Optimis dan harapan yang telah tertanam besar dalam benak orang tua, tgl 21 oktober 2010 Allah memilihkanku untuk tetap tinggal di negriku, Study yang aku rencanakan ke kota Nabi pun tinggal harapan yang jauh ntah dimana, orang mengenal aku sosok yang optimis, dan aku yakin itu! “bukankah Allah itu ada dalam prangsangka hambaNYA”.  keoptimas itu mulai pudar, aku melihat awan semakin kabut, cahaya semakin meredup, tidak ada tujuan alternatif, sampai semua senyum hilang, suara hening, dan akhirnya air mata terurai. Hanya bisa melihat wajah Ibu dengan pasrah, menatap si Ayah dengan tanpa semangat, tidak cukup bagiku hanya mengucapkan “maafkan aku Ibu/ayah”, terdiam dan hanya terdiam.

Tgl 25 oktober bukan tekad yang bulat, melainkan kucaba untuk melangkah dengan hal yg tdak terencana. Dengan kalimat Bismillah dan penuh kekacauan hati aku tapakkan kakiku menuju tempat sebelumnya aku menjadi seorang santri. Berdiri didepan sebuah pintu kos dan kubuka perlahan sambil memutar kunci, pandangan yang kudapati pertama adalah selembar kertas karton yang masih menempel ditembok samping kasur, yang berisi tulisan tentang grafik hidup seorang Ikbal Hamdanie Dasopang, aku ingat ketika menulis grafik itu setahun yang lalu. Dan hari itu hanya bisa menjadi robekan-robekan kertas kecil. Kali ini Tuhan tidak menjawab permintaanku dengan “YA”.

Mencoba meneruskan perkuliahan di Perguruan  Tinggi Ilmu Al-Qur’an, atas pertimbangan, pergaulan dan hafalan Al-Qur’an yang kumiliki saat itu. Perlahan aku menanamkan niat belajar dikampus yang penghuninya adalah orang-orang hafidz dan Qari, dan aku bukanlah salah satu bagian dari mereka. Namun aku mencoba terjunkan diri dalam sebuah organisasi, Meminta sebuah kendaraan kpda orang tua dengan sangat berat hati, dan semuanya harus dijalani. Disini Tuhan lagi mengajriku untuk memilih tindakan yang tepat. 

Masuk dan berbagi dalam sebuah organisasi mahasiswa Islam, perlahan mulai bisa memaknai hidup kembali, sperti apapun keadaan kita, tetap masih ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk orang lain, itu pelajaran pertama yang kutemukan. Belajar berkomunikasi, belajar berdiskusi, dan belajar bersosialisasi. Menemukan orang-orang yang baru dalam hidupku. Lucu, ceria, cerdas, tegas, berwibawa, semuanya ada pada mereka. Mulai belajar berbagi dengan sebuah baksos berbagi setitik ilmu, sampai belajar mengontrol perasaan yang aku tuangkan dalam sebuah tema “cinta kutemukan di istana kumuh”.

Keikhlasan yang benar-benar ditempa saat itu, pengorbanan dan kesabaran yang menjadi tokoh utamanya. Kesederhanaan adalah sahabat hari itu, bahkan sebagian orang mungkin menganggap hal yang menjijikan, namun disitu kebahagian yang sangat luar biasa kutemukan. Tuhan mengajriku bahwa Materi yang cukup kumiliki hari ini tidak menjadi jamaninan untuk bisa membawaku kepada suasana hati yang Tulus dan ceria. Berlomba dengan waktu, mengejar tenggelamnya matahari dan terus berusaha kami dan teman-teman telah sampai di Mushalla mungil itu.

Seperti hal yang rutin, kami memulai langkah mengejar matahari kembali untuk sampai ditujuan. Akan tetapi, apakah karena niat, atau sebab lain yang membuatku terdiam sejenak saat disepertiga jalan, kecelakaan itupun terjadi. Berusaha untuk tenang dan mencari jalan solusi tentang keadaan yang membuat aku berfikir keras. Dan disini Tuhanpun lagi berkata dan mengajriku untuk mandiri dan bertanggung jawab, menyelesaikan suatu keadaan yang tidak pernah terfikir olehku. Dan yakin ini semua adalah bentuk dari bimbinganNYA.

Seminggu waktu berselang, semua yang kumiliki sadar adalah hanya sementara. Salah satunya dalah kendaraan yang kupunya hari itu ditarik lagi olehnya. Sempat mengeluh “ya rabb, hamba tidak tahu apakah ini bagian dari adzab atas kemaksiatan dan dosa yag hamba lakukan, ataukah bagian dari cobaan dan musibah yang bisa menghantarkan hamba sampai pada tingkat selanjutnya?, namun bukankah selama ini hamba pakai untuk berbagi dengan hambaMu yang lain, masihkah aku salah mensyukuri nikmatMu ya rabb?”. Disini aku belajar bertasawwuf kecil untuk sampai pada tingkat Al-Ikhlas war Ridho. Namun terkadang rasa putus asa itu lahir kembali. Mengapa Tuhan menghentikan langkahku kembali?. Ternyata, bukan Tuhan menghentikan langkahku, namun  Tuhan mengajariku untuk bijak dan cerdas mengambil cara lain tanpa berpangku tangan dengan semua fasilitas hidupku.

Sebulan waktu berselang rutinitasku masih terus berjalan, ntah apa yang salah, atau aku yang bersikap salah pada adik-adiku sampai mereka marah dan membenciku hari ini. Aku hanya ingin yang terbaik untuk mereka. Sepulang mengajar anak-anak, ku lanjutkan untuk menghantar pulang teman yang akhwat, akan tetapi ditengah perjalanan itu kami disuguhkan kemacetan yang membuat perut saat itu menjadi lapar dan melahirkan pikiran untuk berhenti sejenak demi memasukkan seteguk air dan sekepal nasi kedalam mulut. Suasana itu membuat aku benar-benar bahagia dan lepas, apakah karena makanan yangg ada didepan mata, ataukah tempat kami makan saat itu, ataukah karena seseorang yang menemani makanku malam itu?. Yang pasti senyum tulus dan bahagia hadir dipipiku sembari menikmati seekor Lele,, ha ha

Sepulang ku keasrama kembali, senyum lepasku ternyata tidak bertahan lama. Ntah apa lagi Allah mengajariku disini. Sekitar dua kali tarikan gas, kendaliku terlepas dan membating tubuhku ditengah jalan kota Jakarta ini. Berguling berkali-kali dan mulai merasakan ada yang berubah dari keadaanku. Masih berusaha menepikan kendaraan (motor pinjeman) yang kupakai, tidak seorang pun menghampiriku saat itu. Mungkin ini salah satu slogan yang pernah kudengar “bahwa Ibu kota Jakarta itu kejam”, sampai akhirnya seorang pemuda membantu menstater kendaraan yang aku belum tau keadaannya. Pikiranku kosong, kaku dan bingun adalah keadaanku saat itu, hanya bisa menghapus serpihan gigi di bibir bawahku, ternyata aku baru tau tiga buah gigi seri atasku telah pecah. Berusaha melanjutkan perjalanan tanpa memperdulikan anggota tubuhku yang lain, namun rasa ngilu di pergelangan dan siku tangan kiriku mulai terasa. Rasa perih disekitar tangan kanan dan kakiku mulai bereaksi, sesampainya di kamar, aku rebahkan tubuh yang baru saja terbanting ditengah jalan itu.

Dan aku yakin lgi hari ini Tuhan berbicara lagi Setelah sekian banyak kejadian yang kualami, berfikir apakah ini bagian dari dosa kerena adanya kebohongan kepada orang tua tua bahwa sesungguhnya Motor yang mereka belikan telah raip. Tgl 15 Mei 2012 aku memberanikan diri bukan bermaksud lantang, ataupun memberikan beban baru buat si Ibu/ayah disamping sakit yang mereka pikul. Melainkan hanya untuk mendapatkan ridho darimu Ibu/ayah dari semua yang akan aku lakukan kedepan. 

Ibu menangis mendengar dari semua berita yang kusampaikan, menangis karena anaknya lagi tergeletak kesakitan jauh di kota Jakarta, menangis karena kehabisan akal cara untuk menyampaikan berit-berita buruk ini kepada si Ayah, menangis karena melihat usaha si Ayah betapa gigihnya mencarai nafkah dan hari ini beliau harus mendengar bahwa uang yang pernah dikirim dengan sekian juta telah hilang, dan menangis berfikir betapa banyak beban yang harus di pikul si Ibu dengan umur yang semakin renta, badan semakin kurus ditambah penyakit yang satu persatu menyerang tubuh beliau. Aku hanya terdiam pasrah dengan semua keadaan hari ini.

Mereka keluargaku yang baru mendengar semua berita dariku tidak henti-hentinya meneleponku berkali-kali tapi yang aku sayangkan dan sesali, yang dibahas adalah masalah Motor yang hilang, dalam benak aku berfikir “apakah mereka tidak pernah terfikirkan bagaimana dengan keadaanku sekarang?” tapi aku tidak minta itu, akupun sadar dengan semua kelalaian yang telah kuperbuat. Sedih, sakit, kecewa, semua itu rasakan. 

Namun dengan semua itu bukan Tuhan tidak adil, Allah mengirimkan malaikat-malaikatNya kepadaku berupa sahabat, teman yang sangat luar biasa. Menghibur, membuat aku selalu tersenyum, akan tetapi ada niat terselubung mereka, yakni untuk melihat gigiku yang setengah ompong J, tapi sayang, mereka tidak semudah itu buat aku untuk tertawa tebahak-bahak. Mengajak aku keluar dari keheningan suasana, membawa keadaanku menjadi sangat ramai dan kaya. Ini keluarga baruku, this is my big family. Perhatian dan motivasi mereka yang membuat aku semakin hidup, aku semakin mengerti dengan semua yang Tuhan katakan dalam hatiku, aku pusatkan seluruh pikiran dan hatiku kepadaNya dan tersenyum sambil berkata “Engkau sangat Indah dengan semua KehendakMu ya Rabb”.

Aku nikmati semua itu, hari ini bagaikan hari ulang tahunku, telepon genggam berdering disetiap sepiku, tersenyum bahkan terharu setiap membaca rangkaian kata yang tersusun berupa sms di layar hp. “sabar ya, nikmat memang terasa hilang saat kita sakit, tapi saat sakit itu kita sabar maka akan terasa nikmat,, tenang saja nanti sepulang dari dokter InsyaAllah langsung sembuh ko’ ^_^..” itu sebagian rangkain kalimat yang kudapati, aku membalas nya seolah putus asa, “tapi keadaanku tidak akan bisa kembali lagi seperti sebelumnya”, dan balasan selanjutnya membuat aku tersenyum, “ Sok tau,, kan Allah yang Maha menentukan, siapa tau Allah punya rencana lain, membuatmu lebih tampan dari sebelumnya,, he he besyukur aja, Allah masih memberikan kesempatan untuk berbuat baik lebih banyak, indahnya paras wajah bukan suatu jaminan, asal iman dan taqwa tidak hilang maka ketampanan hati akan datang sendirinya ^_^.”

Setelah ada janji dengan dokter, aku rapikan seluruh pakaianku dan berangkat ke ruang praktek gigi beliau. Berkonsultasi dan saatnya melakukan operasi kecil disekitar gigi-gigiku yang sudah pada retak dan pecah. Sakitnya luar biasa, ingin sekali menggenggam tangan Ibu saat itu, berteriak tidak bisa, karena seluruh ruangan mulut telah dipenuhi dengan berbagai macam alat sang dokter, hanya bisa menahan sakit dan air mata mengalir dengan sendirinya. Disela-sela penyelesaian operasi kecilku, hp disaku ku bergetar, berusaha meraih dan melihat layar yang menampilkan 12 angka no telepon seseorang, dan aku kenal no itu, 2 hurup akhir yang dibolak-balik = 962. Dan tidak ada kesempatan untuk menerima panggilan itu karena sang dokter lagi sibuk merapikan gigi yang telah usai di tambal. Dan setelah semuanya rapi, aku mendapati teman-teman akhwat  telah menungguku selepas magrib tadi, untuk melihat keadaanku gigiku yang setengah ompong, tapi sayang gigiku sekarang telah rapi kembali,, he he. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya, hanya bisa melihat wajah-wajah cantik dan tulus mereka, dan subuah obat yang sangat luar biasa dalam hidupku. Sungguh Tuhan selalu berbicara dengan hambaNya, jangan biarkan kami meninggalkanmu Rabb, dan jangan masukkan kami dalam golongan orang-orang yang putus asa dari rahmatMu..