Syahrul Efendi D
Mantan Ketua Umum PB HMI MPO
Istilah jahiliyah bagi sebagian orang masih enggan untuk diperbincangkan. Orang maklum bahwa istilah itu berkonotasi keras dan tidak toleran. Seolah-olah, dalam kesadaran kita tumbuh mesin detektor penyeleksi segala pikiran yang dianggap tidak toleran. Orang amat merasa sial kalau dituduh tidak toleran. Orang lebih memilih pura-pura toleran dengan mengerem segala wacana yang tidak toleran daripada bersikap jujur.
Ini bukan soal tolerai) atau tidak. Ini soal kemauan untuk membuka masalah secara jujur, apa benar kita jahiliyah atau tidak. Sejauh mana kejahili-yahan kita apabila dibandingkan dengan masa sebelum Nabi Muhammad SAW, sebab munculnya istilah jahiliyah adalah untuk menggambarkan situasi masyarakat pra-Islam di Mekkah. Mereka disebut jahiliyah karena memang acuan nilai masyarakat pra-Islam itu amat bodoh.
Sekedar mengambil gambaran singkat sejahiliyah apakah situasi ketika itu, kita dapat menilainya dari puisi-puisi yang diciptakan di masa itu. Puisi-puisi itu amat berguna mendeskripsikannya. Hal ini, misalnya, tergambar oleh rangkaian syair Zuheir bin Abi Salma, seorang penyair terkenal di zaman jahiliyah, "Siapa saja yang tidak menjaga kehormatan diri dan kebebasannya dengan pedang dan senjatanya, akan dimusnahkan orang.
Begitu juga siapa yang tidak melakukan kezaliman terhadap orang lain, akan menerima kezaliman orang lain ke atas dirinya."
Juga digambarkan oleh pepatah Arab zaman jahiliyah yang berbunyi, "Bantulah sau-daramu, baik dia orang zalim maupun orang yang dizalimi."
Minuman keras dan judi merupakan kebiasaan sehari-hari yang sangat meluas di masyarakat, bahkan merupakan suatu kebanggaan masyarakat.
Gambaran masyarakat itu dilukiskan oleh penyair Tarfah bin Al-Abd, "Seandainya tiada tiga syarat kebanggaan pemuda, hidupku takkan meriah dan aku tak akan menjamu teman sebaya. Bujukan manis si genit jelita berwajah ayu, hidangan arak membuih, si genit pembuka selera, kepingan uang gemerincing menjamu teman seiring uang baru dan sisa peninggalan lama, semuanya ku hamburkan seenak rasa. Aku ingin disanjung dan dipuja. Akulah pemuda gagah perkasa."
Pelacuran dalam berbagai bentuknya sudah menjadi tradisi kebanggaan masyarakat jahiliyah, seperti yang tergambar dalam hadis riwayat Aisyah RA, "Perkawinan di zaman jahiliyah ada empat jenis. Pertama, perkawinan seperti yang berlaku di zaman kita, yaitu seorang lelaki meminang seorang anak perempuan yang halal dinikahinya atau seorang perempuan yang di bawah ja-gaan orang lain yang menjadi walinya. Manakala pihak kedua menerima pinangan itu, terjadilah perkawinan. Kedua, seorang suami berkata kepadaisterinya ketika si isteri itu suci dari haidnya, pergilah kau menemui si A dan ambillah keturunan darinya, lalu si suami itu tidak menyetubuhi isterinya itu hingga didapatinya si isteri itu mengandung hasil hubungan jenis dengan orang yang disuruh suaminya itu. Bila jelas si isteri telah mengandung, barulah si suami itu menyetubuhi isterinya kalau dia mau.
Sang suami menyuruh isterinya berbuat demikian karena dia menginginkan seorang anak yang pintar. Perkawinan jenis ini dinamakan "kawin mencari anak pintar."
Ketiga, sekumpulan laki-laki kira-kira tak sampai sepuluh orang bersepakat menyetubuhi seorang perempuan. Semua melakukan persetubuh-an itu (sesuai giliran masing-masing). Bila si perempuan hamil dan melahirkan, setelah beberapa waktu kelahiran anak itu, perempuan tadi pun menjemput setiap orang yang terlibat dalam kesepakatan menyetubuhinya itu dahulu.
Keempat, beberapa orang berkumpul untuk menyetubuhi seorang perempuan secara bergiliran (tanpa kesepakatan apa pun) dan perempuan itu tidak boleh menolak siapa saja yang ingin menyetubuhinya. Perempuan itu akan meletakkan selembar kain sebagai tanda di pintu rumahnya kalau ada seseorang yang sedang menyetubuhinya (siapa saja yang suka boleh menyetubuhinya).
Lalu, apakah yang berbeda dengan ungkapan yang sering kita dengar di zaman ini. Sekarang yang haram saja susah boro-boro yang halal.
Bagaimana pula dengan budaya pop yang mengalir derasdewasa ini, mulai dari lirik-lirik lagu yang amat rendah secara moral, ketidakpedulian masyarakat terhadap perzinahan, dan bumbu-bumbu setiap event, baik konser musik maupun launching produk yang menampilkan menu wajib berupa perempuan-perempuan penggoda. Apakah ini tidak mirip dengan situasi jahiliyah di masa pra-Islam?
Mari kita beralih ke masalah yang menimpa zaman kita dewasa ini dengan sebuah kebodohan yang nyaris tiada ban-dingannya dalam sejarah umat manusia di muka bumi.
Perhatikanlah masalah ini. Dewasa ini kita semua dihantui oleh soal hancurnya bumi. Anehnya, semua tahu bahwa masalah ini akibat kerakusan manusia sendiri industrialisasi dan over konsumsi. Industrialisasi menciptakan cerobong-cerobong pabrik di berbagai penjuru bumi. Over konsumsi menghanguskan energi-energi, seperti minyak bumi dan batu bara. Semuanya menyumbang pemanasan global.
Dalam beberapa abad mungkin bumi akan hancur. Setidaknya separuh daratan tempat manusia tinggal akan tenggelam akibat gunung salju di kutub mencair. Banyak orang menerima ketidakwara-san ini. Solusinya adalah dengan penghutanan besar-besaran yang diusulkan negara-negara industri yang diterima secara wajar, meskipun tetap dihantui momok global warming. Apakah keadaan mutakhir semacam ini bukan merupakan bentuk masa jahiliyah?
Jahiliyah kuno sifatnya tetaplah sama dengan jahiliyah mutakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar