Surat Buat Ayah
Jasanya Ayah sudah
tidak ada seorangpun yang dapat membalasnya, sekalipun ditebus dengan tumpukan
harta, takkan pernah bisa membayar semua apa yang telah Ayah berikan kepadaku.
Aku tau hari-hari Ayah selalu untuk ku dan keluarga, mulai dari terbit pajar
hingga matahari telah menepi di ujung tobak, sampai sirnanya sinarnya di tengah
malam. Semua itu Ayah lewati hanya untuk ku dan kelurga, sekalipun Ayah tidak
selalu ada di sampingku. Namun, di luar sana yang setiap saat bahaya dan musibah
selalu mengiringi setiap gerakan dan tindakan yang Ayah lakukan, tanpa rasa takut, Ayah menjalaninya bak
seperti lagi berlayar di atas tumpukan salju.
Aku juga tau, Ayah
lebih mimilih untuk menahan kertas ribuan yang ada di kantong saku, dari pada
harus meneguk segelas kopi dan membayarnya dengan kertas ribuan tersebut. Ayah
lebih mimilih untuk makan dengan ikan daripada harus pakai lauk daging yang
mungkin harganya bisa dua porsi lauk ikan. Ayah lebih menyukai untuk tertidur
di luar rumah karena rasa lelah yang tidak tertahan lagi dari pada Ayah harus
tidur dirumah untuk memanjakan diri. Dan semua Ayah lakukan tidak lain hanya
untuk memenuhi semua kebutahanku sebagai anak dan keluarga.
Dan aku juga tau,
bahwa seorang anak memiliki kebutuhan yang tidak sedikit, bahkan tidak ada
habisnya, terlebih lagi jika Ayah harus menuruti semua kemauanku dengan
perkembangan zaman dan lingkungan yang terus berubah. Semua yang melekat di
tubuhku adalah kebutuhan yang telah Ayah cukupi, makanan yang tiap hari Ayah
berikan yang membuat aku tidak pernah merasakan lapar, dan semua apa yang telah
aku miliki di rumah juga adalah bagian dari kebutuhanku yang telah Ayah cukupi
tanpa ada kekurangan satupun, di tambah lagi biaya pendidikan ku yang tidak
murah.
Namun
apakah akan terus seperti ini ? Tidak Ayah!!!
Aku
bukanlah anak yang menjadi Benalu untuk mu, yang hanya bisa memerasmu dan
menghisap darahmu dari luar. Aku bukanlah anak yang hanya bisa berpangku tangan
di atas manjaanmu. Bukan anak yang hanya bisa memberikan kode pada
tanggal-tanggal tertentu, atau hanya bisa membuat sebuah rekayasa kebutuhan
tambahan pribadiku saja.
Bukankah
Ayah tahu bahwa aku telah bertekad untuk Ayah tidak membiayai dana pendidikan
ku lagi setelah usai dari bangku sekolah. Bukan kah Ayah juga melihat niat ku
untuk mencari dana Beasiswa dari beberapa instansi pendidikan agar Ayah tak
lagi membiayaiku. Tapi semua itu hanya usaha dariku saja yang sudah mulai
enggan untuk menerima biaya yang Ayah kirimkan setiap bulannya. Dan sampai hari
ini Tuhan belum memberikan kehendakNya untuk Ayah tidak membantu kebutuhan ku
lagi. Tuhan belum memberikan izinNya untuk aku bisa mendulang dana pendidikan
dengan sendirinya. Bukan kah biaya yang aku dapatkan dari Ayah adalah bagian
dari rizki Tuhan untukku?, sekalipun benar sungguh aku masih enggan untuk
menerimanya jika harus melaluimu Ayah.
Aku
telah banyak membuatmu susah, aku telah terlalu sering membuatmu repot.
Terkadang Ayah juga membentakku karena keletihan untuk membiayai semua
kebutuhanku yang tiada hentinya. Tapi apakah aku harus memaksakan diri untuk
tidak meminta lagi kepadamu Ayah, berhenti untuk tidak mengejar pendidikan
kah?, berhenti untuk tidak menjadi seorang pelajar kah?, mungkin itu akan berdampak jauh yang akan aku terima di
kemudian hari nanti. Memang aku tidak bisa berbuat apa-apa hari ini, kecuali
hanya berpangku tangan kepadamu. Tapi aku pun tidak menuntut apa-apa tehadapmu
Ayah, Aku hanya sebatas Anakmu yang akan turuti semua intruksi darimu.
Seandainya
aku di izin kan Tuhan untuk memilih, maka aku akan memilih untuk tidak menjadi
anakmu. Bukan karena aku tidak bahagia bersamamu, dan bukan karena aku tidak
bangga memiliki Ayah sehebat engkau, namun aku hanya tidak ingin merepotkan mu
seperti hari ini, tidak ingin membuatmu susah yang harus memenuhi semua
kebutuhanku. Dan aku tidak mampu menatapmu ketika engkau harus duduk kelelahan
di depanku, dan aku tidak kuat tatkala aku harus mendengarmu mengeluh karena
kebingungan untuk memenuhi semua yang kubutuhkan.
Sekali
lagi aku tidak pernah menuntutmu Ayah, hanya karena saja status ku yang sebagai
seorang anak dan statusmu yang sebagai seorang Ayah yang membuatmu untuk
memenuhi semua nafkahku. Aku yakin Tuhan itu bertanggung jawab dengan semua apa
yang telah dikehendakiNya, dan hari inipun Tuhan telah melahirkanku kebumiNya,
maka Ia akan bertanggung jawab atas segalanya. Mungkin aku menuntut Tuhan, tapi
Bukan, aku hanya memberikan gambaran bahwa Tuhan memiliki sifat mustahil yang
melanggar janjiNya sendiri dan tidak bertanggung jawab.
Tuhanku
akan membalas semua apa yang telah engkau lakukan Ayahku . . .
Jangan
pernah mengeluh, karena aku bukanlah alasan untuk keluhanmu,
Jangan
pernah putus asa, karena engkau telah di utus menjadi pemimpin dengan modal
yang cukup agar membuatmu lebih kuat,
Maafkan
anakmu yang sampai hari ini hanya bisa merepotkanmu di setiap waktu yang kau
punya..!
AKU MENCINTAIMU AYAH

