Minggu, 30 September 2012

Do'a Cinta



Ada sebuah percakapan yang menurut saya menarik dari sebuah dialog antara seorang wanita dengan seorang pria yang berbicara tentang Hati dan Cinta, singkat nya dari perbincangan tersebut adalah sebagai berikut :
 
@Pulan: “Semoga Tuhan membantu kita untuk selalu mengukuhkan hati ini ^_”,, kuat,,, tangguh,, dan tidak mudah jatuh”

@Pulanah: “maksudnya?”

@Pulan: “heemm, aku juga gk ngerti, aku hanya menulis kmna jariku bergerak sesuai perintah dari hati”
@Pulanah: Ada apa dengan hati?”

@Pulan:selalu ingin bergerak tapi berusaha untuk bisa mengendalikannya.. krena aku gk tau kmana akan arah hati itu, kalau dituruti akan membuahkan kesakitan atau kemanisan yang sesaat”

@Pulanah:Arahkan hatimu pada Allah,, hanya untuk Allah,, agar hatimu tenang karenaNYA!”

@Pulan:selalu berusaha seperti itu, bercerita bagaikan seorang teman,, meminta pengajaran bagaikan seorang Murid,, dan meminta dituntun bagaikan seorang anak,, semoga tidak mengganggu terhadapmu ^_^ ,,
 
@Pulanah: “Maksudnya?”

@Pulan:kamu kebanyakan bermaksud, ha,, ha,, semoga Allah selalu menuntun kita dalam hidup ini,, terlebih lagi dalam menetapkan hati.. save your heart! (jaga hatimu ^_^)”

@Pulanah:he,, he,, aku tak kuasa menjaga hatiku, untuk itu kuserahkan pada cinta pertamaku”
@Pulan: “Cinta pertamamu = ???”

@Pulanah: Allah SWT yang seharusnya cinta pertama setiap manusia

@Pulan: “kamu yang pertama mengatakan untuk menjaga hatiku,, so?? Aku juga tak kuasa menjaga hatiku maka aku serahkan sepenuhnya pada Sang cinta pertama *_*.. “

@Pulanah: “namun tetap saja manusia harus tetap berusaha menjaga hatinya agar selalu lurus,, salah satunya dengan berdo’a..”

@Pulan: “ha.. ha.. iya, bagus tuch buat tema untuk tulisanmu ‘Do’a cinta’,

@Pulanah: “ :-D,, sayang nya aku bukan dokter cinta.. “

@Pulan: “tapi kamu dokter spritual buat aku,, :-0..”

@Pulanah: “ha.. ha.. “

Rabu, 19 September 2012

Humble



Tulus Bukan Berarti Mengemis

      Kata mereka dia tidak sesempurna yang aku katakan. Kenapa?  Karena dia Tidak memberikan wadah buatku untuk suatu perbaikan. Ketulusan yang aku selalu sanjung tentangnya tidak bagi mereka. Kenapa? Karena kata mereka tidak ada kata maaf sampai saat ini untukku. Karena ketulusan yang sejati akan menembus suatu ketulusan juga. Apakah dia tidak sebaik yang aku pkirkan untuk hari ini? Kata mereka Tidak!
Itu suatu kesimpulan yang dapat aku tulisakan dari suatu peristiwa tatkala kita melakukan suatu kesalahan dan tidak mendapatkan suatu kesempatan untuk perbaikan kesalahan yang telah dilakukan. Namun terkadang kita harus mengemis guna mencapai suatu tujuan kata maaf dan diikuti dengan niat perbaikan diri, akan tetapi kesempatan untuk perbaikan itu terkadang ruang lingkupnya semakin sempit. Anggap saja kita lagi berbicara tentang kesalahan dalam sebuah perasaan, mungkin jalinan cinta.

Hal ini banyak di alami oleh orang lain, karena setiap orang memiliki perasaan, hati dan cinta. Pada kutipan di atas, sebagian orang menerjemahkan usaha untuk mendapatkan maaf dan kesempatan untuk lebih baik yang dengan bentuk seperti itu adalah pengemisan. Dan sebagian orang juga tidak mengakui hal seperti itu jika terjadi pada diri mereka. 

Namun bagiku tidak. Cinta yang sejati itu akan melahirkan ketulusan, dan ketulusan tidak terukur oleh sesuatu sebab, Dan tidak bisa dipengaruhi oleh sesuatu hal. Ketulusan akan bergerak sendiri oleh hati yang paling dalam. Sekalipun dalam keadaan pahit ataupun manis ia tetap akan bergerak dalam kebenaran yang di kendalikan oleh kata-kata hati yang jauh dari kebohongan dan keraguan. Bukan suatu bentuk “pengemisan”, yang membuat diri seseorang itu rendah di mata orang lain. Bahkan ketulusan itu akan membuat seseorang mulai dimata orang lain. Jika di katakan suatu bentuk pengemisan, itu bukanlah di dasari dari suatu ketulusan, melainkan lebih kepada ketidak mampuan seseorang untuk mendapatkan sesuatu. Adanya tujuan tertentu, keinginan tersembunyi yang ingin di dapatkan dari sesuatu hal, dan jika tidak mendapatkan dari tujuan tersebut akan melahirkan suatu kekecewaan. Tidak bagi suatu ketulusan, karena ketulusan tersebut di balut dengan keikhlasan yang tinggi tanpa adanya tujuan untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri.

Susah untuk mencapai hal tersebut, namun harus tetap di percayai bahwa ketulusan tidak akan mengenal batas dan waktu, dan ia akan menembus sesuatu yang tidak bisa ditembus oleh mata. Dan aku percaya itu sekalipun aku belum sampai pada titik itu. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Regina Brett ada sebuah kalimat yang membuat aku memahami hal tersebut,

“aku percaya pada matahari sekalipun saat tenggelam, dan aku percaya pada Cinta sekalipun aku belum merasakannya” dan aku dapat menambahkannya “Aku percaya pada ketulusan sekalipun saat itu aku tersakiti”

Ketulusan tidak berarti mengemis, biarkan ia tetap tumbuh dan lakukan hal-hal tertentu dengan tetap tulus dan itu tidak akan menyiksa diri seseorang oleh karena sesuatu. Mencitai seseorang dengan tulus, mengerjakan suatu pekerjaan dengan tulus, membantu dalam hal kebajikan dengan tulus, dan meminta (berdo’a) dengan tulus.

Jumat, 14 September 2012

Si Pengemis Yang Salah



Harus Kah Aku Mengemis?

S ekarang aku memang bukan siapa-siapa, dan dulu pun aku bukan siapa-siapa. Tapi setidaknya dulu aku masih punya harapan dan cita-cita. Dua tahun Engkau telah menemani aku, aku lepaskan hatiku untuk seseorang yang akan menjadi masa depanku, harapanku bukan permainan, atau hubungan singkat. Aku memulai hidup baru di kebebasan, tanpa ada pembimbing dan peraturan seperti dahulu tat kala tinggal dalam gemblengan para ustadz dan Kiyai. Melakukan banyak rencana dan menggoreskan banyak cerita berdua bersamamu. Membangun sebuah harapan-harapan tinggi guna menutupi semua harapan-harapan yang telah berakhir tanpa bekas. Pengorbanan, canda, tawa, cerita dan janji setia menjadi bumbu-bumbu penyedap buat kita saat itu. Tidak itu saja, perbedaan pemikiran dan masalah-maslah kecil membuat kita semakin erat dan semakin erat lagi. Engkau menjagaku dengan kasih sayangmu, engkau perhatikan aku dengan pengertianmu, engkau sapa aku dengan kelembutanmu, dan aku merasakan semuanya dengan ketulusanmu.
Memang aku tidak sesempurna dirimu, dan tidak pula sebaik kamu. Aku memang salah, dan sangat sering berbuat salah kepadamu dan sekarang jarak kita semakin jauh. Ingin rasanya membenahi semuanya kembali. Tapi sayang, seolah itu tidak mungkin lagi. Tidak ada celah cahaya sedikitpun dari sudut manapun yang ada disisi mu buatku untuk kembali kepadamu.  Tidak ada suaramu lagi, sudah tidak ada bayanganmu lagi. Kemanjaan yang kerap kali menjadi teman disetiap hariku sudah pergi jauh dan sangat jauh. Kata “sayang” yang acap kali terdengar ditelingaku sudah menjadi debu yang terbawa angin melayang-layang ntah kemana. Engkau telah bungkam, dan sekarang aku hanya menerima ampas kosong.
Engkau telah mengambil semuanya dari ku. Seharus nya ini tidak pernah terjadi. Bahkan sekarang aku tidak tahu, apakah ini kasih sayang atau kebencian. Aku seperti pengemis yang selalu berwajah melas untuk mendapatkan belas kasihan dari seseorang yang begitu sempurna. Pengemis yang tidak pernah di lirik apalagi untuk di pandang. Dan jika aku berfikir di balik segala kekuranganku telah Tuhan ciptakan seikat kelebihan bagiku, dan dibalik kesempurnaan yang engkau miliki telah Tuhanku ciptakan segenggam kekurangan. Tapi sekarang aku bagaikan makhluk yang tidak ada kesempatan untuk memiliki kelebihan itu, dan engkau bagaikan makhluk utusan Tuhan yang tanpa kekurangan. Hidupku sudah tidak terarah, semua jalan buntu, tidak ada teman, sahabat, keluarga, apalagi kekasih. Sekarang benar-benar telah menjadi gersang. Semuanya sudah tidak ada nilainya lagi, apa yang tersisa dalam diri ini yang termasuk apa-apa yang masih melekat di badan ini hanya ampas semata dari kisah-kisah ceritaku dahulu..