The First Love
Berbicara tentang suatu perasaan adalah
hal yang paling sensitif dalam setiap diri seorang manusia, manusia tidak
jarang membicarakan masalah hal ini, bahkan Tuhan pun tidak jarang mengatakan
masalah perasaan (Hati) yang ada dalam kalamNya. Jika dapat saya katakan, suatu
perasaan bisa menjadi promotor bagi seseorang dalam menjalani kehidupannya,
namun tidak sedikit juga orang mendustakan hal itu. Dari perasaan-perasaan itu
akan terlahir lah suatu ekspresi berupa senang, bahagia, sedih dan haru, benci,
suka, sayang bahkan cinta. Sejak manusia lahir, cinta yang pertama kali
ditanamkan didalam dirinya adalah cinta kepada penciptanya, akan tetapi dengan
gemerlapnya dunia, cinta kepada Tuhan sudah semakin tidak diakui, bahkan seolah
tidak ada. Tuhan menciptakan segala hal dengan sepasang yang sangat indah,
adanya siang dan malam, adanya bulan dan matahari, adanya hitam dan putih
sampai adanya aku dan kamu.
Salah satu ekspresi perasaan itu adalah
cinta. Banyak orang yang telah merasakan perasaan ini, tapi sayangnya tidak
semua berbuah positif. Ada pula yang menjadikan cinta itu suatu permainan,
teka-teki, suatu formalitas dan bisa jadi tebak-tebakan. Jika direnungkan
kembali, adanya penciptaan diri ini karena cintanya Tuhan, terlahirnya seorang
manusia hasil dari sarana buah cinta dua insan yang suci. Tidak patutlah cinta
itu dijadikan obralan bak dagangan di pinggir jalan.
Saat itu cinta terlahir dengan
sendirinya, dengan adanya cita-cita dan tujuan, banyak harapan dan keinginan,
sebelumnya tidak pernah mengenal cinta dan merasakan rasa sayang terhadap orang
lain, mungkin ini yang dikatakan banyak orang tentang “the first love”. Akhirnya aku mendapatkan cinta itu. Begitu bahagia
yang tidak tergambarkan, rasa senang menusuk seluruh jemari, terbang bagaikan
merpati yang lagi jatuh cinta, serasa itu akan abadi. Tidak pernah terpikir
untuk usai atau membayangkan tentang suatu perpisahan, membayangkan nya saja
tidak bisa, apalagi kenyataan. Tapi itu hanya harapan seorang manusia, jika
Tuhan berkehendak lain? Siang bisa menjadi malam, bulan bisa menjadi matahari,
bahkan putih bisa menjadi hitam.
Satu persatu cita-cita itu berakhir,
perlahan demi perlahan keinginan-keinginan itu mulai pudar, sampai akhirnya
hanya tertinggal sebuah “Cinta” yang suci. Dan apa jawabannya jika “cinta”
itupun akhirnya tenggelam oleh suatu permasalahan. Yang dapat aku simpulkan
adalah:
Tiada cita-cita saat ini yang lebih
berharga bagiku kecuali bisa menjaga cinta itu dan mempertahankannya sampai
kelopak mata ini tertutup oleh usia.
Tiada keinginan yang paling besar bagiku
melainkan mendapatkan cinta itu kembali.
Tiada kekecewaan yang pernah kualami
semasa hidupku kecuali kehilangan cinta itu.
Tiada kelemahan yang ada padaku melainkan
cinta itu meninggalkanku.
Tiada kesedihan yang berlarut saat ini
jika harapan itu sudah tidak ada lagi.
Bagiku mati satu tidak akan pernah ada
yang tumbuh lagi kecuali yang mati itu hidup kembali..
