Mahasiswa
Tanpa Rekayasa
Memang menggiurkan mendengar beberapa
perguruan tinggi yang masyhur di negeri
ini. Dengan semua fasilitas yang ada, infrastruktur pembangunan yang memadai,
Tenaga pengajar dari kalangan para pejabat dan tokoh negeri ini pula. Waoww... sangat amaizing
sekali!. Mungkin
universitas yang berkelas internasional adalah kampus-kampus yang memenuhi
kriteria tersebut. Tapi apakah aku si anak pegawai biasa bisa menduduki
kursi-kursi yang berada dalam kelas kampus semacam itu?, Belum Tentu kawan, terkadang
hidup itu wajib berdiskriminasi, bukan manusianya, tapi materinya yang akhirnya
melahirkan sebuah diskriminasi kehidupan dalam dunia pendidikan.
Apakan harus menjadi suatu kebanggaan jika
menjadi bagian dari mahasiswa kampus-kampus tersebut?, hhhmm.. bisa jadi iya,
jika kita melihat pendidikan seorang mahasiswa itu dari corong materi saja.
Tapi itu adalah pandangan yang sangat sempit sekali. Padahal sejatinya seorang
mahasiswa tidak memiliki nilai tanpa wawasan dan Intelektual yang kritis dari
seorang mahasiswa itu sendiri. Tidak bisa berkarya seorang mahasiswa yang
sesungguhnya jika tanpa suatu kekreatifan dalam suatu disiplin ilmu tertentu. Berpenampilan
yang Stylish, keren, gaul, bahkan glamor bukan menjadi barometer untuk menjadi
mahasiswa yang dibanggakan. Dan semua itu adalah bagian dari REKAYASA bullshit.!!
Dan di sini ada sekumpulan mahasiswa yang
patut kita pertimbangkan, dan mungkin ini jauh lebih menarik dari pada seorang
mahasiswa bullshit,, Hahaha.. Sebut saja
Mahasiswa Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an Jakarta. Namun yang jadi
fokus utama penulis di sini adalah sebuah kalimat yang terkadang saya dengar
dari celetukan orang-orang yang tidak mengetahui sejatinya seorang mahasiswa,
yaitu; “Pacaran
sama Mahasiswa PTIQ?, udah gk jaman kaliee,, :p”. Di sini jangan berfikir bahwa
penulis seorang mahasiswa PTIQ, jika benar berarti tulisan ini hanya sebuah
narsis yg dituangkan menjadi beberapa huruf. Tapi Tidak!, jangan memposisikan
Penulis sebagai Mahasiswa PTIQ, karena saya hanya mencoba mengungkap tabir
kenyataan dari sejatinya seorang Mahasiswa PTIQ. Hehehe
Fasilitas yang ada di kampus tidak membuat
mahasiswa berhenti melangkah untuk lebih berkreasi lagi, terlebih ketika kita
melihat dari Maktabah yang biasa kita kenal dengan perpustakaan yang menyimpan
buku-buku klasik yang mungkin anda tidak bisa temukan di manapun, tapi di
maktabah ini anda bisa menemukannya, bahkan sudah tidak ada lagi sisipan lemari
sedikitpun untuk menambah buku-buku kontemporer yang lebih update,, hehehe
“bukan kekurangan ruangan lho” .
Nah sekarang kita beralih ke personal mahasiswa,
hhhhmmm,,, ini yang penulis tunggu-tunggu dari tadi,
hahaha.. Jika di
kampus-kampus besar prestasi tidak hanya dicetak di lingkup kampus, namun
hingga go internasional. Dan Mahasiswa PTIQ tidak pernah absen setiap Tahunnya
dari kejuaran-kejuaran Nasional hingga internasional, “pastinya
bukan juara Olympiade FISIKA lho,, hehehe. Dan yang membuat penulis lebih tertarik
lagi ketika masyarakat yang memiliki hobby mengundang para mahasiswa dari rumah
ke rumah hingga masjid bahkan perkantoran dan apartemen, jika dibuat suatu
grafik frekuensi maka tingkat grafik akan meningkat ketika mendekati bulan
ramadhan, dan sepertinya masyarakat tidak bisa terlepas dari mahasiswa PTIQ dan
ini adalah real !!!
Ini masih sebagian kecil dari kenyataan yang
ada dalam potensi mahasiswa PTIQ, dan hingga sampai di sini itu bukanlah bagian
dari rekayasa berita ataupun rekayasa penulis saja. Apakah anda masih berfikir
untuk tidak mempertimbangkannya?, ok saya akan lanjutkan fakta-fakta yang ada
dalam pribadi mahasiswa PTIQ yang selama ini belum terungkap..
Kita masuk kedalam dunia pergaulan. Terlalu
banyak mahasiswa yang di luar sana hidup penuh dengan rekayasa, sampai
penampilan fisikpun direkayasa. Ketampanan yang mereka miliki hanya sepanjang
wangi aroma parfum, sebatas minyak yang melekat di rambut, dan aksesoris yang
dapat mengundang perhatian kaum hawa. Tapi apakah anda tau 30 % ketampanan
Mahasiswa PTIQ disembunyikan ketika mereka melangkah ke kampus. Kenapa tidak?,
seluruh area kampus dihuni oleh para kaum Adam, (bahasa
kerennya cowo).
So tidak ada rasa ketertarikan mahasiswa untuk sedikit memoles rambutnya,
menempelkan sedikit parfum, apalagi harus menggunakan aksesoris. Perhatian
siapa yang ingin dijadikan modus? Paling Ibu kantin,, #bagi
mahasiswa yang tidak normal hehehe..
Tapi bukan berarti mahasiswa PTIQ kumuh,
kumel dan berantakan. Coba kita lihat ketika mahasiswa memiliki moment acara
kumpul bareng dengan kampus sebelah (yang penghuninya adalah kaum hawa kecuali
supir Bus yang biasanya mengantarkan para bidadari dunia ini ke kampus *kali
ini gue muji loe,, hehe). Penampilan Mahasiswa ini membuat kita samar, seolah mereka
bukan mahasiswa yang berkampuskan nilai Al-Qur’an. Mulai dari pakaian T-Srit
Distro yang ternama hingga penampilan yang bergaya Biker anak motor Vespa. Dan penulis
hanya mengatakan anda tidak perlu lagi meragukan penampilan mahasiswa ini. Tapi
seperti apapun penampilan yang ada, hati tidak akan pernah terlepas dari
nilai-nilai Al-Qur’an. Pastinya anda (khusus cewe) menginginkan suami yang
sholeh bukan? Hihihihi...
Dan sekarang penulis mengajak anda untuk
bertaubat jika anda termasuk orang yang pernah mengatakan “Anak PTIQ sudah gk
jaman kaliee” karena jika tidak, itu akan membuat anda akan menyesal dunia
akherat.. hahahah Selamat tersenyum-senyum.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar