Jumat, 17 Mei 2013

My Father Is Great



Surat Buat Ayah

Jasanya Ayah sudah tidak ada seorangpun yang dapat membalasnya, sekalipun ditebus dengan tumpukan harta, takkan pernah bisa membayar semua apa yang telah Ayah berikan kepadaku. Aku tau hari-hari Ayah selalu untuk ku dan keluarga, mulai dari terbit pajar hingga matahari telah menepi di ujung tobak, sampai sirnanya sinarnya di tengah malam. Semua itu Ayah lewati hanya untuk ku dan kelurga, sekalipun Ayah tidak selalu ada di sampingku. Namun, di luar sana yang setiap saat bahaya dan musibah selalu mengiringi setiap gerakan dan tindakan yang Ayah lakukan,  tanpa rasa takut, Ayah menjalaninya bak seperti lagi berlayar di atas tumpukan salju.

Aku juga tau, Ayah lebih mimilih untuk menahan kertas ribuan yang ada di kantong saku, dari pada harus meneguk segelas kopi dan membayarnya dengan kertas ribuan tersebut. Ayah lebih mimilih untuk makan dengan ikan daripada harus pakai lauk daging yang mungkin harganya bisa dua porsi lauk ikan. Ayah lebih menyukai untuk tertidur di luar rumah karena rasa lelah yang tidak tertahan lagi dari pada Ayah harus tidur dirumah untuk memanjakan diri. Dan semua Ayah lakukan tidak lain hanya untuk memenuhi semua kebutahanku sebagai anak dan keluarga. 

Dan aku juga tau, bahwa seorang anak memiliki kebutuhan yang tidak sedikit, bahkan tidak ada habisnya, terlebih lagi jika Ayah harus menuruti semua kemauanku dengan perkembangan zaman dan lingkungan yang terus berubah. Semua yang melekat di tubuhku adalah kebutuhan yang telah Ayah cukupi, makanan yang tiap hari Ayah berikan yang membuat aku tidak pernah merasakan lapar, dan semua apa yang telah aku miliki di rumah juga adalah bagian dari kebutuhanku yang telah Ayah cukupi tanpa ada kekurangan satupun, di tambah lagi biaya pendidikan ku yang tidak murah.

Namun apakah akan terus seperti ini ? Tidak Ayah!!! 

Aku bukanlah anak yang menjadi Benalu untuk mu, yang hanya bisa memerasmu dan menghisap darahmu dari luar. Aku bukanlah anak yang hanya bisa berpangku tangan di atas manjaanmu. Bukan anak yang hanya bisa memberikan kode pada tanggal-tanggal tertentu, atau hanya bisa membuat sebuah rekayasa kebutuhan tambahan pribadiku saja.

Bukankah Ayah tahu bahwa aku telah bertekad untuk Ayah tidak membiayai dana pendidikan ku lagi setelah usai dari bangku sekolah. Bukan kah Ayah juga melihat niat ku untuk mencari dana Beasiswa dari beberapa instansi pendidikan agar Ayah tak lagi membiayaiku. Tapi semua itu hanya usaha dariku saja yang sudah mulai enggan untuk menerima biaya yang Ayah kirimkan setiap bulannya. Dan sampai hari ini Tuhan belum memberikan kehendakNya untuk Ayah tidak membantu kebutuhan ku lagi. Tuhan belum memberikan izinNya untuk aku bisa mendulang dana pendidikan dengan sendirinya. Bukan kah biaya yang aku dapatkan dari Ayah adalah bagian dari rizki Tuhan untukku?, sekalipun benar sungguh aku masih enggan untuk menerimanya jika harus melaluimu Ayah.

Aku telah banyak membuatmu susah, aku telah terlalu sering membuatmu repot. Terkadang Ayah juga membentakku karena keletihan untuk membiayai semua kebutuhanku yang tiada hentinya. Tapi apakah aku harus memaksakan diri untuk tidak meminta lagi kepadamu Ayah, berhenti untuk tidak mengejar pendidikan kah?, berhenti untuk tidak menjadi seorang pelajar kah?, mungkin itu akan  berdampak jauh yang akan aku terima di kemudian hari nanti. Memang aku tidak bisa berbuat apa-apa hari ini, kecuali hanya berpangku tangan kepadamu. Tapi aku pun tidak menuntut apa-apa tehadapmu Ayah, Aku hanya sebatas Anakmu yang akan turuti semua intruksi darimu.

Seandainya aku di izin kan Tuhan untuk memilih, maka aku akan memilih untuk tidak menjadi anakmu. Bukan karena aku tidak bahagia bersamamu, dan bukan karena aku tidak bangga memiliki Ayah sehebat engkau, namun aku hanya tidak ingin merepotkan mu seperti hari ini, tidak ingin membuatmu susah yang harus memenuhi semua kebutuhanku. Dan aku tidak mampu menatapmu ketika engkau harus duduk kelelahan di depanku, dan aku tidak kuat tatkala aku harus mendengarmu mengeluh karena kebingungan untuk memenuhi semua yang kubutuhkan.

Sekali lagi aku tidak pernah menuntutmu Ayah, hanya karena saja status ku yang sebagai seorang anak dan statusmu yang sebagai seorang Ayah yang membuatmu untuk memenuhi semua nafkahku. Aku yakin Tuhan itu bertanggung jawab dengan semua apa yang telah dikehendakiNya, dan hari inipun Tuhan telah melahirkanku kebumiNya, maka Ia akan bertanggung jawab atas segalanya. Mungkin aku menuntut Tuhan, tapi Bukan, aku hanya memberikan gambaran bahwa Tuhan memiliki sifat mustahil yang melanggar janjiNya sendiri dan tidak bertanggung jawab.

Tuhanku akan membalas semua apa yang telah engkau lakukan Ayahku . . .
Jangan pernah mengeluh, karena aku bukanlah alasan untuk keluhanmu,
Jangan pernah putus asa, karena engkau telah di utus menjadi pemimpin dengan modal yang cukup agar membuatmu lebih kuat,

Maafkan anakmu yang sampai hari ini hanya bisa merepotkanmu di setiap waktu yang kau punya..!
AKU MENCINTAIMU AYAH




Tidak ada komentar:

Posting Komentar