Harus Kah Aku Mengemis?
S ekarang aku memang bukan siapa-siapa, dan dulu
pun aku bukan siapa-siapa. Tapi setidaknya dulu aku masih punya harapan dan
cita-cita. Dua tahun Engkau telah menemani aku, aku lepaskan hatiku untuk
seseorang yang akan menjadi masa depanku, harapanku bukan permainan, atau
hubungan singkat. Aku memulai hidup baru di kebebasan, tanpa ada pembimbing dan
peraturan seperti dahulu tat kala tinggal dalam gemblengan para ustadz dan
Kiyai. Melakukan banyak rencana dan menggoreskan banyak cerita berdua
bersamamu. Membangun sebuah harapan-harapan tinggi guna menutupi semua
harapan-harapan yang telah berakhir tanpa bekas. Pengorbanan, canda, tawa,
cerita dan janji setia menjadi bumbu-bumbu penyedap buat kita saat itu. Tidak
itu saja, perbedaan pemikiran dan masalah-maslah kecil membuat kita semakin
erat dan semakin erat lagi. Engkau menjagaku dengan kasih sayangmu, engkau
perhatikan aku dengan pengertianmu, engkau sapa aku dengan kelembutanmu, dan
aku merasakan semuanya dengan ketulusanmu.
Memang aku tidak sesempurna dirimu, dan tidak pula
sebaik kamu. Aku memang salah, dan sangat sering berbuat salah kepadamu dan
sekarang jarak kita semakin jauh. Ingin rasanya membenahi semuanya kembali.
Tapi sayang, seolah itu tidak mungkin lagi. Tidak ada celah cahaya sedikitpun
dari sudut manapun yang ada disisi mu buatku untuk kembali kepadamu. Tidak ada suaramu lagi, sudah tidak ada
bayanganmu lagi. Kemanjaan yang kerap kali menjadi teman disetiap hariku sudah
pergi jauh dan sangat jauh. Kata “sayang” yang acap kali terdengar ditelingaku
sudah menjadi debu yang terbawa angin melayang-layang ntah kemana. Engkau telah
bungkam, dan sekarang aku hanya menerima ampas kosong.
Engkau telah mengambil semuanya dari ku. Seharus nya ini tidak pernah
terjadi. Bahkan sekarang aku tidak tahu, apakah ini kasih sayang atau
kebencian. Aku seperti pengemis yang selalu berwajah melas untuk mendapatkan
belas kasihan dari seseorang yang begitu sempurna. Pengemis yang tidak pernah
di lirik apalagi untuk di pandang. Dan jika aku berfikir di balik segala
kekuranganku telah Tuhan ciptakan seikat kelebihan bagiku, dan dibalik
kesempurnaan yang engkau miliki telah Tuhanku ciptakan segenggam kekurangan.
Tapi sekarang aku bagaikan makhluk yang tidak ada kesempatan untuk memiliki
kelebihan itu, dan engkau bagaikan makhluk utusan Tuhan yang tanpa kekurangan. Hidupku
sudah tidak terarah, semua jalan buntu, tidak ada teman, sahabat, keluarga,
apalagi kekasih. Sekarang benar-benar telah menjadi gersang. Semuanya sudah
tidak ada nilainya lagi, apa yang tersisa dalam diri ini yang termasuk apa-apa
yang masih melekat di badan ini hanya ampas semata dari kisah-kisah ceritaku
dahulu..
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar