Jumat, 14 September 2012

Si Pengemis Yang Salah



Harus Kah Aku Mengemis?

S ekarang aku memang bukan siapa-siapa, dan dulu pun aku bukan siapa-siapa. Tapi setidaknya dulu aku masih punya harapan dan cita-cita. Dua tahun Engkau telah menemani aku, aku lepaskan hatiku untuk seseorang yang akan menjadi masa depanku, harapanku bukan permainan, atau hubungan singkat. Aku memulai hidup baru di kebebasan, tanpa ada pembimbing dan peraturan seperti dahulu tat kala tinggal dalam gemblengan para ustadz dan Kiyai. Melakukan banyak rencana dan menggoreskan banyak cerita berdua bersamamu. Membangun sebuah harapan-harapan tinggi guna menutupi semua harapan-harapan yang telah berakhir tanpa bekas. Pengorbanan, canda, tawa, cerita dan janji setia menjadi bumbu-bumbu penyedap buat kita saat itu. Tidak itu saja, perbedaan pemikiran dan masalah-maslah kecil membuat kita semakin erat dan semakin erat lagi. Engkau menjagaku dengan kasih sayangmu, engkau perhatikan aku dengan pengertianmu, engkau sapa aku dengan kelembutanmu, dan aku merasakan semuanya dengan ketulusanmu.
Memang aku tidak sesempurna dirimu, dan tidak pula sebaik kamu. Aku memang salah, dan sangat sering berbuat salah kepadamu dan sekarang jarak kita semakin jauh. Ingin rasanya membenahi semuanya kembali. Tapi sayang, seolah itu tidak mungkin lagi. Tidak ada celah cahaya sedikitpun dari sudut manapun yang ada disisi mu buatku untuk kembali kepadamu.  Tidak ada suaramu lagi, sudah tidak ada bayanganmu lagi. Kemanjaan yang kerap kali menjadi teman disetiap hariku sudah pergi jauh dan sangat jauh. Kata “sayang” yang acap kali terdengar ditelingaku sudah menjadi debu yang terbawa angin melayang-layang ntah kemana. Engkau telah bungkam, dan sekarang aku hanya menerima ampas kosong.
Engkau telah mengambil semuanya dari ku. Seharus nya ini tidak pernah terjadi. Bahkan sekarang aku tidak tahu, apakah ini kasih sayang atau kebencian. Aku seperti pengemis yang selalu berwajah melas untuk mendapatkan belas kasihan dari seseorang yang begitu sempurna. Pengemis yang tidak pernah di lirik apalagi untuk di pandang. Dan jika aku berfikir di balik segala kekuranganku telah Tuhan ciptakan seikat kelebihan bagiku, dan dibalik kesempurnaan yang engkau miliki telah Tuhanku ciptakan segenggam kekurangan. Tapi sekarang aku bagaikan makhluk yang tidak ada kesempatan untuk memiliki kelebihan itu, dan engkau bagaikan makhluk utusan Tuhan yang tanpa kekurangan. Hidupku sudah tidak terarah, semua jalan buntu, tidak ada teman, sahabat, keluarga, apalagi kekasih. Sekarang benar-benar telah menjadi gersang. Semuanya sudah tidak ada nilainya lagi, apa yang tersisa dalam diri ini yang termasuk apa-apa yang masih melekat di badan ini hanya ampas semata dari kisah-kisah ceritaku dahulu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar