Mistake Is Improvement
Manusia
itu memang hidup di daratan, namun terkadang kehidupan mereka bagaikan berenang di permukaan laut
yang begitu luas, bahkan dengan begitu luasnya sampai arah yang di tujupun
hilang bak tenggelam di kedalaman laut. Begitu lah kehidupan kita.
Awal penciptaan manusia telah di bekali dengan sifat lupa dan
salah. Sekalipun seorang utusan Tuhan tidak akan pernah terlepas dari kedua
sifat ini. Kesalahan yang berkali-kali yang terus terulang belum tentu bisa
membuat seseorang berubah. Ada sebagian manusia hidup ditengah-tengah
kesalahan, ya seperti hidup di tengah lautan yang air nya itu bagaikan lumpur
kesalahan. Tapi sebenarnya manusia itu memiliki kesalahan dengan tujuan untuk
maju dan melangkah. Dari hal yang salah menjadi benar, dari sesuatu yang tidak
diketahui menjadi tahu, dan dari suatu hal yang tidak biasa akan menjadikan
biasa.
Bersikukuh
dan mempertahankan untuk memiliki tindakan yang selalu benar dan tepat akan
menumbuhkan suatu keegoisan yang melekat dalam diri seorang manusia yang keras
kepala. Malu untuk mengaku salah atau hanya sebatas malu untuk mengalah. Jika
suatu saat mendapatkan kebenaran yang hakiki, hal itu akan menjadi pondasi yang
sangat besar baginya untuk mempertahankan tindakan-tindakan selanjutnya yang
akan dilakukan yang belum tentu pada kebenaran yang hakiki pula. Tidak mau
menerima saran dari orang lain, membuat berbagai macam argumen untuk
mempertahankan pendapat sendiri. Sifat
keras kepala tidak menjadikan seseorang itu mulia, dikagumi, disegani, atau di
puji. Bahkan tanpa mempertahankan pendapat diri sendiri, orang lain juga tau
siapa kita sebenarnya.
Itu salah
satu kesalahan yang sering kali kita memasukinya namun tanpa dengan kesadaran.
Sebagian orang tidak setuju jika saya mengatakan “tanpa dengan kesadaran”. Ya mungkin dengan kata yang lebih tepat yaitu
karena saat itu ia lagi “tidak tahu”. Oleh karena itu dalam keseharian kita
selalu meminta kepada Tuhan untuk mengampuni dosa-dosa kita dikarenakan ketidak
tahuan kita dalam bertindak.
Tapi
apakah dengan suatu kesadaran yang begitu dalam dari kesalahan-kesalahan yang
telah diperbuat membuat kita harus terpuruk, berdiam diri, hanyut dalam
penyesalan, tidak ada gairah karena seolah tidak ada celah untuk memperbaiki
segala nya, berharap untuk bisa lebih baik, merubah segala nya dari hal yang
paling dasar. Kesalahan yang baru disadari hari ini tidak harus membuat kita
menyempurnakan kehancuran dengan menikmati penyesalan dan kesalahan yang
terjadi. Apakah harus mengemis kesana dan kemari, kepadanya atau kepada mereka
untuk mendapatkan kesempatan bisa lebih baik, kesempatan untuk mengulang segalanya, kesempatan untuk merubah
sesuatu!.
Kesalahan
tidak menjadikan kita hina, jika di barengin dengan keinginan untuk merubahnya,
memperbaikinya, dan mengakhiri kesalahan itu, sekalipun itu berkali-kali,
bahkan ribuan kali. Karena Tuhan pun memeberikan kesempatan ribuan kali bagi
hamba-hamba Nya yang ingin kembali kepadan Nya.
Jangan
merendahkan diri sendiri, cukup dengan kata “maaf” dan penyesalan yang
mendalam, dan pastinya perubahan yang positif untuk memperbaiki diri dari
perbuatan dan tindakan yang sebelumnya dilakukan dengan kesalahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar