Tulus Bukan Berarti Mengemis
Kata mereka dia tidak sesempurna
yang aku katakan. Kenapa? Karena dia Tidak
memberikan wadah buatku untuk suatu perbaikan. Ketulusan yang aku selalu
sanjung tentangnya tidak bagi mereka. Kenapa? Karena kata mereka tidak ada kata
maaf sampai saat ini untukku. Karena ketulusan yang sejati akan menembus suatu
ketulusan juga. Apakah dia tidak sebaik yang aku pkirkan untuk hari ini? Kata
mereka Tidak!
Itu suatu kesimpulan yang dapat
aku tulisakan dari suatu peristiwa tatkala kita melakukan suatu kesalahan dan
tidak mendapatkan suatu kesempatan untuk perbaikan kesalahan yang telah
dilakukan. Namun terkadang kita harus mengemis guna mencapai suatu tujuan kata
maaf dan diikuti dengan niat perbaikan diri, akan tetapi kesempatan untuk
perbaikan itu terkadang ruang lingkupnya semakin sempit. Anggap saja kita lagi
berbicara tentang kesalahan dalam sebuah perasaan, mungkin jalinan cinta.
Hal ini banyak di alami oleh
orang lain, karena setiap orang memiliki perasaan, hati dan cinta. Pada kutipan
di atas, sebagian orang menerjemahkan usaha untuk mendapatkan maaf dan
kesempatan untuk lebih baik yang dengan bentuk seperti itu adalah pengemisan.
Dan sebagian orang juga tidak mengakui hal seperti itu jika terjadi pada diri
mereka.
Namun bagiku tidak. Cinta yang
sejati itu akan melahirkan ketulusan, dan ketulusan tidak terukur oleh sesuatu
sebab, Dan tidak bisa dipengaruhi oleh sesuatu hal. Ketulusan akan bergerak
sendiri oleh hati yang paling dalam. Sekalipun dalam keadaan pahit ataupun
manis ia tetap akan bergerak dalam kebenaran yang di kendalikan oleh kata-kata
hati yang jauh dari kebohongan dan keraguan. Bukan suatu bentuk “pengemisan”, yang
membuat diri seseorang itu rendah di mata orang lain. Bahkan ketulusan itu akan
membuat seseorang mulai dimata orang lain. Jika di katakan suatu bentuk
pengemisan, itu bukanlah di dasari dari suatu ketulusan, melainkan lebih kepada
ketidak mampuan seseorang untuk mendapatkan sesuatu. Adanya tujuan tertentu,
keinginan tersembunyi yang ingin di dapatkan dari sesuatu hal, dan jika tidak
mendapatkan dari tujuan tersebut akan melahirkan suatu kekecewaan. Tidak bagi
suatu ketulusan, karena ketulusan tersebut di balut dengan keikhlasan yang
tinggi tanpa adanya tujuan untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri.
Susah untuk mencapai hal
tersebut, namun harus tetap di percayai bahwa ketulusan tidak akan mengenal
batas dan waktu, dan ia akan menembus sesuatu yang tidak bisa ditembus oleh
mata. Dan aku percaya itu sekalipun aku belum sampai pada titik itu. Dalam
sebuah buku yang ditulis oleh Regina Brett ada sebuah kalimat yang membuat aku
memahami hal tersebut,
“aku percaya pada matahari
sekalipun saat tenggelam, dan aku percaya pada Cinta sekalipun aku belum
merasakannya” dan aku dapat menambahkannya “Aku percaya pada ketulusan
sekalipun saat itu aku tersakiti”
Ketulusan tidak berarti
mengemis, biarkan ia tetap tumbuh dan lakukan hal-hal tertentu dengan tetap
tulus dan itu tidak akan menyiksa diri seseorang oleh karena sesuatu. Mencitai
seseorang dengan tulus, mengerjakan suatu pekerjaan dengan tulus, membantu
dalam hal kebajikan dengan tulus, dan meminta (berdo’a) dengan tulus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar