Rabu, 19 September 2012

Humble



Tulus Bukan Berarti Mengemis

      Kata mereka dia tidak sesempurna yang aku katakan. Kenapa?  Karena dia Tidak memberikan wadah buatku untuk suatu perbaikan. Ketulusan yang aku selalu sanjung tentangnya tidak bagi mereka. Kenapa? Karena kata mereka tidak ada kata maaf sampai saat ini untukku. Karena ketulusan yang sejati akan menembus suatu ketulusan juga. Apakah dia tidak sebaik yang aku pkirkan untuk hari ini? Kata mereka Tidak!
Itu suatu kesimpulan yang dapat aku tulisakan dari suatu peristiwa tatkala kita melakukan suatu kesalahan dan tidak mendapatkan suatu kesempatan untuk perbaikan kesalahan yang telah dilakukan. Namun terkadang kita harus mengemis guna mencapai suatu tujuan kata maaf dan diikuti dengan niat perbaikan diri, akan tetapi kesempatan untuk perbaikan itu terkadang ruang lingkupnya semakin sempit. Anggap saja kita lagi berbicara tentang kesalahan dalam sebuah perasaan, mungkin jalinan cinta.

Hal ini banyak di alami oleh orang lain, karena setiap orang memiliki perasaan, hati dan cinta. Pada kutipan di atas, sebagian orang menerjemahkan usaha untuk mendapatkan maaf dan kesempatan untuk lebih baik yang dengan bentuk seperti itu adalah pengemisan. Dan sebagian orang juga tidak mengakui hal seperti itu jika terjadi pada diri mereka. 

Namun bagiku tidak. Cinta yang sejati itu akan melahirkan ketulusan, dan ketulusan tidak terukur oleh sesuatu sebab, Dan tidak bisa dipengaruhi oleh sesuatu hal. Ketulusan akan bergerak sendiri oleh hati yang paling dalam. Sekalipun dalam keadaan pahit ataupun manis ia tetap akan bergerak dalam kebenaran yang di kendalikan oleh kata-kata hati yang jauh dari kebohongan dan keraguan. Bukan suatu bentuk “pengemisan”, yang membuat diri seseorang itu rendah di mata orang lain. Bahkan ketulusan itu akan membuat seseorang mulai dimata orang lain. Jika di katakan suatu bentuk pengemisan, itu bukanlah di dasari dari suatu ketulusan, melainkan lebih kepada ketidak mampuan seseorang untuk mendapatkan sesuatu. Adanya tujuan tertentu, keinginan tersembunyi yang ingin di dapatkan dari sesuatu hal, dan jika tidak mendapatkan dari tujuan tersebut akan melahirkan suatu kekecewaan. Tidak bagi suatu ketulusan, karena ketulusan tersebut di balut dengan keikhlasan yang tinggi tanpa adanya tujuan untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri.

Susah untuk mencapai hal tersebut, namun harus tetap di percayai bahwa ketulusan tidak akan mengenal batas dan waktu, dan ia akan menembus sesuatu yang tidak bisa ditembus oleh mata. Dan aku percaya itu sekalipun aku belum sampai pada titik itu. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Regina Brett ada sebuah kalimat yang membuat aku memahami hal tersebut,

“aku percaya pada matahari sekalipun saat tenggelam, dan aku percaya pada Cinta sekalipun aku belum merasakannya” dan aku dapat menambahkannya “Aku percaya pada ketulusan sekalipun saat itu aku tersakiti”

Ketulusan tidak berarti mengemis, biarkan ia tetap tumbuh dan lakukan hal-hal tertentu dengan tetap tulus dan itu tidak akan menyiksa diri seseorang oleh karena sesuatu. Mencitai seseorang dengan tulus, mengerjakan suatu pekerjaan dengan tulus, membantu dalam hal kebajikan dengan tulus, dan meminta (berdo’a) dengan tulus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar