Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh….
Dulu tak sesuatu pun yang pernah Ku permasalahkan, Semuanya Ku serahkan pada Allah sang pemilik segala permasalahan, dan dari segala suesuatu yang kuinginkan tidak satupun yang tak Aku dapatkan, Semuanya Allah berikan, tidak satupun yang kurang dari apa yang Aku butuh kan, Semuanya Allah cukupi. Allah memberikan ketenangngan hati, jiwa dan raga bagiku. Karena saat Itu cintaku hanya Untuk Allah semata dan rinduku hanya pada Rasululluh yang selalu Aku nantikan tuk bertemu dengannya. Tiada hari tanpa meneteskan air mata di atas sejadahku yang bersih, Tiada hari tanpa Berkomunikasi denganNYA, serasa bertemu denganNYA, berhadapan denganNYA, bahkan menyatu denganNYA, bak seorang teman. Tak ada pembicaraan yang ni'mat kecuali denganNYA, tempatku mencurahkan segala bentuk perasaanku, sedih, gembira, senang, suka, duka, asmara dan sebagainya,…. Tapi sekarang???
Dimana Aku? Atau dimanakah DIA???
Aku telah meninggalkanNYA ataukah DIA yang telah meninggalkanKu,?
Aku sangat merindukanNYA, aku tak bisa lagi mendapatkan suasana itu, perasaan itu, iman itu, dan kedamaian itu,…
Saat itu, Hanya sebuah tantangan kecil untuk mendapatkan sesuatu dari sebuah hiburan, tak ada niat dan keinginan, Siang itu Aku di izinkanNYA tuk bertutur sapa, Aku memulai dengan niat tuk tidak mencintainya, tidak menyayanginya, serta tidak menaruh hati padanya, dan aku sangat menjaga untuk itu, karena aku pernah mengaguminya, walaupun begitu Allah ternyata memiliki kehendak lain atas itu, Aku mendengar Suara kecilnya, Aku menjawab tanya manisnya, banyak kata dalam pembicaraan itu, yang diselingi dengan tawa kecilku dengannya. Sebelumnya tak ada perempuan yang bisa Aku ajak berbicara, tetapi kenapa denganya?? Kenapa mesti dia?? Knapa harus dia??
Pagi itu hatiku mulai melayang, Aku berlari ke RumahNYA, Aku bersungkur di atas sejadah itu, air mata itu menetes kembali, lantunan do'a dan pertanyaan mulai mengalir dari lisanku, Aku bersujud beharap dapat perlindungaNYA. Dalam selang waktu yang pendek, rasa kasih sayang itu mulai tertanam dalam hatiku, tapi hati masih bertanya, "apakah ini suatu ketulusan ataukah sesuatu yang lain?" Semakin lama rasa itu semakin menekanku, dengan perhatiannya yang sangat penuh terhadapku, serta keingintahuannya tentangku selama ini.
Tanpa Aku sadari semuanya berjalan begitu sederhana, kedamaian yang Aku rasakan dahulu berbeda dengan kedamaian yang Aku rasakan saat itu, Aku rubah penampilanku, Aku sedikan waktuku untuknya, Aku ingin selalu mendengarkan suaranya, kata-katanya, tawa kecilnya dan candanya.
Lagu Al-Qur'anku telah di ganti olehnya, sunnah-sunnahku telah di ganti olehnya, kemana salawatku? Aku merasa telah meninggalkan kekasihku yang sesungguhnya, yang selalu ada di hatiku. Tapi Aku tak menyadari itu semua, dimana sebenarnya Aku berjalan? Sampai akhirnya Aku tenggelam dalam sebuah kegelapan, tidak ada sedikitpun percikan cahaya yang dapat kulihat, bergelut dengan dosa dan maksiat, Aku tak tahu semakin kemana kakiku melangkah, dan Aku tak tahu sampai kapan kakiku tuk berhenti.
Nafsu…. Nafsu… dan Nafsu…
Ia telah menguasaiku, memelukku erat, dan tidak melepaskanku lagi. Aku mengatakan Aku telah sadar, sebenarnya Aku belum sadar, Aku akan berhenti, tapi Aku tak berhenti, Aku berjanji tapi Aku mengingkari, sampai Aku tidak tahu sampai kapan ini akan berakhir? Apakah DIA masih melihatku??? Apakah Aku masih bisa merasakanNYA??? Apakah DIA masih memperdulikan Ku???
Akankah Aku akan selamanya seperti ini? Siapa yang bisa membawakan Aku percikan cahaya itu, yang bisa mengeluarkan Aku dari kegelapan Ini, Tapi Aku tak bisa meninggalkannya, Aku sudah merasakan suatu ketulusan, Aku sangat menyayanginya, Aku yakin dia adalah sebagian dari cita-citaKu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar